Pra Kondisi/Pembekalan Awal PLPG Sertifikasi Guru Dalam Jabatan 2017 Bagi Guru Madrasah

Pra kondisi PLPG atau pembekalan awal PLPG merupakan rangkaian kegiatan yang harus diikuti oleh seluruh peserta PLPG 2017.

Pembekalan awal PLPG dilaksanakan dengan tujuan agar para guru lebih siap dalam mengikuti PLPG. Di pembekalan awal PLPG, peserta mempelajari 2 sumber belajar yaitu: sumber belajar pedagogik & sumber belajar bidang studi.

Pembekalan awal PLPG dilaksanakan kurang lebih selama 2 bulan, di mana setiap peserta mempunyai kewajiban untuk membuat laporan kemajuan sebanyak 4 kali.

Nilai akhir pembekalan awal PLPG merupakan akumulasi dari 30% skor proses, 30% skor laporan, dan 40% skor presentasi laporan.

Setiap rombel pembekalan awal PLPG, rata-rata terdiri dari 10 orang peserta, dan setiap rombel difasilitasi oleh 1 orang mentor.

Materi/bahan ajar pembekalan awal PLPG, dapat diunduh di http://sertifikasikemenag.id

Halaman http://sertifikasikemenag.id  hanya untuk bahan ajar saja, bukan tempat diskusi/proses pembekalan awal PLPG.

Pembekalan awal PLPG dilaksanakan secara daring (online) pada alamat https://ksg.kemdikbud.go.id/pembekalan

Pastikan guru/peserta  login ke halaman https://ksg.kemdikbud.go.id/pembekalan

Peserta diberi kesempatan paling lama 2 minggu untuk mengaktifkan akun. Jika dalam 2 minggu peserta belum mengaktifkan akunnya, maka peserta tersebut dianggap mengundurkan diri.

Pada kegiatan mentoring harus ada interaksi antara mentor (pendamping) dengan peserta secara daring, khusus untuk peserta di daerah tertentu mentoring dilaksanakan melalui email atau tatap muka.

Skor Pembekalan Awal PLPG (SP) minimal 65, artinya jika SP< 65, maka peserta dinyatakan tidak lulus PLPG.

Peserta wajib membuat laporan akhir pembekalan PLPG dan dibawa saat datang ke lokasi PLPG.

Sumber:
Buku Petunjuk Teknis yang dikeluarkan oleh Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Kementerian Agama Republik Indonesia Tahun 2017

Iklan

Sistem Pendidikan yang Ramah Terhadap Anak

Oleh: Jumadal Afrizal, S.Si, M.Pd*

Sebagai guru, penulis seringkali menghadapi berbagai problema pendidikan yang membutuhkan pendekatan yang humanis ketimbang pendekatan berdasarkan peraturan dan tata tertib sekolah yang berlaku pada umumnya. Misalnya, ketika berhadapan dengan persoalan anak yang masuk kelas dengan keadaan belum sarapan pagi tentu dibutuhkan kepekaan humanis yang tinggi dari seorang guru. Guru tidak boleh serta merta melakukan kegiatan pembelajaran padahal dia mengetahui ada beberapa orang anak didiknya belum sarapan pagi dengan berbagai alasan yang dikemukakan. Apabila seorang guru mengajar sementara ada di antara anak didiknya yang belajar sambil menahan lapar karena belum sarapan pagi tentu sangatlah tidak manusiawi hal tersebut dilakukan. Secara psikologis si anak tidak akan bisa fokus dan berkonsentrasi dalam mengikuti pelajaran karena secara fisik dan psikis si anak tidak siap untuk belajar.  Belajar adalah sebuah kegiatan yang harus mencurahkan segenap jiwa dan raga dari seorang peserta didik dalam mengikuti setiap langkah kegiatan proses pembelajaran. Di dalam belajar membutuhkan energi yang besar karena harus menggunakan akal pikiran bahkan tenaga di dalam melakukan interaksi-interaksi atau kolaborasi-kolaborasi dengan peserta didik lainnya. Termasuk harus menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru yang harus dikumpulkan saat itu juga. Jadi jika seorang anak diharuskan belajar di dalam kondisi kelaparan, penulis yakin si anak tidak akan mampu mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna tapi menjadi pengalaman belajar yang cukup menyiksa bagi dirinya, karena harus bertahan dalam kelaparan sekian jam pelajaran. Continue reading →

Video Persembahan Dari Muridku Di Hari Guru 25 November 2016

Di hari guru 25 November 2016 anak-anak di kelasku telah mempersiapkan segala sesuatu untuk dipersembahkan kepadaku sebagai guru sekaligus wali kelas mereka. Simak video berikut:

Video Penyerahan Piagam Kedisiplinan

Seorang wali kelas harus memiliki kreativitas untuk menciptakan suasana kelas yang menyenangkan bagi anak-anak didiknya dengan menghargai setiap usaha kebaikan yang diperlihatkan oleh anak didik dalam bentuk pemberian piagam penghargaan yang dikemas dalam suatu kegiatan kelas yang menarik dan santai tapi penuh dengan hal-hal positif didalamnya. Simak video berikut:

 

FOTO-FOTO KEGIATAN KELAS TP. 2016/2017

Foto-foto dibawah ini adalah hasil dokumentasi pada saat melakukan kegiatan di kelas sebagai wali kelas IX-2 MTsS Ulumul Qur’an Kota Banda Aceh yaitu:
1. Kegiatan penyerahan piagam penghargaan kedisiplinan masuk kelas tepat waktu.
2. Kegiatan penyerahan piagam penghargaan bagi pengurus organisasi kelas.
3. Kegiatan penyerahan piagam penghargaan bagi siswa yang telah memberikan kontribusinya bagi setiap kegiatan yang dilaksanakan di kelas.
4. Kegiatan penyerahan piagam penghargaan bagi piket kelas terbaik.
5. Kegiatan penyerahan piagam penghargaan pada saat pengambilan rapor yang disaksikan oleh orang tua/wali santri.
6. Kegiatan penyerahan hadiah pulpen dan buku bagi siswa yang disiplin.
7. kegiatan perayaan Hari Guru 25 November 2017.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Lelang Jabatan Kepala Sekolah Ala Jokowi di “Sekolah Abu Nawas”

Jabatan kepala sekolah pada dasarnya adalah tugas tambahan yang diberikan kepada guru yang dianggap cakap dan mampu, disamping dilihat dari aspek kepangkatannya juga. Kalau dilingkungan PNS dikenal dengan nama “Baperjakat” yaitu badan pertimbangan jabatan dan pangkat. Badan ini yang bertugas mempertimbangkan pangkat dan jabatan seorang PNS termasuk guru yang diangkat menjadi Kepala Sekolah. Dan mungkin juga karena ada faktor X yang membuat seorang guru diangkat jadi kepala sekolah. Kalau menurut saya, faktor X itu adalah relasi, kedekatan dengan pejabat tertentu yang punya kewenangan untuk memutuskan sesuatu jabatan, dan mungkin juga lobi dari orang yang punya kepentingan. Sedangkan dari aspek kompetensi saya rasa tidak terlalu jadi ukuran. Kalau pun ada Ujian Cakep (calon kepala sekolah) hanya formalitas saja. Tetap faktor X yang lebih dominan. Malah terkadang lebih punya kompetensi guru biasa dibandingkan dengan kepala sekolahnya, mungkin kesempatan saja yang tidak berpihak kepadanya. Apalagi fit and proper test mana pernah kita dengar dilakukan bagi seorang calon kepala sekolah. Lebih sering karena suka atau tidak suka dari para pejabat di atasnya.

Sehingga dengan sistem pemilihan kepala sekolah yang tidak terlalu jelas ini, malah lebih cenderung karena faktor X, maka tidaklah mengherankan kinerja seorang kepala sekolah cenderung biasa-biasa saja dan santai-santai saja. Kinerjanya tidak ubahnya seperti seorang yang sedang menikmati liburan dan rekreasi saja, hanya tertawa-tertawa saja dan bercanda-bercanda saja kerjanya sambil menunggu masa liburannya berakhir. Begitulah perumpamaan kinerja seorang kepala sekolah, begitu masa tugasnya sebagai kepala sekolah berakhir sama artinya masa liburannya telah berakhir pula, dan digantikan dengan orang lain, syukur-syukur kalau masa tugasnya diperpanjang lagi, mungkin karena faktor X tadi.

Kalau model kepala sekolah seperti itu enak sekali ya, cuma duduk-duduk manis saja, tidak ada kesibukan, semua sudah ada yang urus, yang buat roster pembagian tugas sudah ada yaitu bagian pengajaran/kurikulum, kalau ada kegiatan penerimaan murid baru, kegiatan ujian sekolah, sudah ada panitia yang bekerja. Mengajar cuma 6 jam, sedangkan guru-guru biasa harus 24 jam, karena jabatan kepala sekolah disamakan dengan (ekuivalensi) 18 jam sehingga kalau dijumlahkan beban kerjanya 24 jam juga. Tapi kalau kita amati 18 jam tugas tambahan ini tidak tercapai juga bila dilihat dari sejauhmana perkembangan sekolah ke arah kemajuan karena 18 jam itu adalah beban kerja bagi seorang kepala sekolah untuk bekerja bagi perkembangan sekolahnya, kalau ternyata tidak ada perubahan sama sekali ke arah yang lebih baik berarti 18 jam tersebut tidak sepenuhnya digunakan untuk bekerja melainkan untuk hal-hal lain, mungkin lebih banyak digunakan untuk bersantai-santai saja menikmati jabatannya.

Baru nampak ada kesibukan kalau ada rapat-rapat di luar sekolah, itupun rapat yang sifatnya rutinitas dari tahun ke tahun tetap sama yaitu rapat penentuan awal semester, libur semester, tentang ujian sekolah, ujian nasional, dan lain sebagainya. Menghadiri undangan makan-makan (kenduri), mengikuti upacara peringatan hari-hari penting nasional dan daerah seperti Hardiknas (Hari pendidikan nasional) dan Hardikda (Hari pendidikan daerah), dan acara-acara seremonial lainnya. Malah ada kepala sekolah yang lebih banyak menghabiskan waktunya di luar sekolah dengan alasan mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut di atas, setelah pergi tidak kembali lagi, baru kembali ke sekolah pada hari berikutnya, atau ada juga kepala sekolah yang memanfaatkan waktunya yang banyak lowong tadi karena 18 jam tugas tambahan yang tidak jelas job descriptionnya untuk dimanfaatkan mengajar di kampus-kampus perguruan tinggi sebagai dosen tidak tetap.

Dengan kinerja yang biasa-biasa saja, saya rasa semua orang juga bisa duduk dijabatan kepala sekolah, semua sudah ada yang atur bagian masing-masing, tinggal dikontrol saja kerja bagian-bagian itu. Kalau ada kepala sekolah yang masih mau mengontrol sudah sangat lumayan, karena ada juga kepsek yang sama sekali tidak ada control management, semua dibiarkan berjalan apa adanya. Tidak ada usaha untuk memperbaiki, malahan bila ada guru yang bersemangat untuk merubah keadaan menjadi lebih baik dilemahkan semangatnya, karena mental kepsek memang tidak berharap banyak perubahan, biar seperti itu-itu saja. Kalau mental kepsek seperti itu apa yang bisa diharapkan? Kontrol ke kelas saja tidak pernah, mencari tahu apa ada masalah di kelas berkaitan dengan fasilitas-fasilitas belajar. Apa ada bangku, meja belajar yang rusak, patah kaki, goyang-goyang, papan tulis yang rusak, cok listrik yang tidak terpasang dengan baik dan kawat-kawatnya dibiarkan telanjang. Pokoknya semua fasilitas belajar yang sudah tidak layak lagi apakah sudah tercatat semua? Ada kepsek yang tidak peduli dengan hal ini. Anak-anak didik dibiarkan berlama-lama merasakan fasilitas belajar yang tidak layak. Kasihan sekolah dengan mental kepsek seperti ini, acuh tak acuh saja. Sebaliknya, bila berkaitan dengan kepentingannya sendiri, fasilitasnya sendiri, tunjangan, gajinya, sampai transportasinya untuk mengurus berkas-berkas yang berkaitan dengan administrasi sekolah harus diperhitungkan, tidak boleh kurang sedikitpun. Harus dibayarkan. Keadilan hanya untuk dirinya sendiri. Pemimpin apa seperti ini? Continue reading →

Materi dan Bahan Ajar Pembekalan Awal PLPG 2017

Pra kondisi PLPG atau pembekalan awal PLPG merupakan rangkaian kegiatan yang harus diikuti oleh seluruh peserta PLPG 2017.

Pembekalan awal PLPG dilaksanakan dengan tujuan agar para guru lebih siap dalam mengikuti PLPG. Di pembekalan awal PLPG, peserta mempelajari 2 sumber belajar yaitu: sumber belajar pedagogik & sumber belajar bidang studi.

Materi/bahan ajar pembekalan awal PLPG, dapat diunduh di http://sertifikasikemenag.id

Pada saat tulisan ini dibuat, semua materi di  http://sertifikasikemenag.id sudah tidak bisa di unduh lagi karena sudah ditutup oleh admin PLPG.

Bagi bapak/ibu yang ingin memperoleh materi/bahan ajarnya di sini, silahkan unduh di bawah ini:

Materi Pedagogik:
Bab I Karakteristik Siswa    Unduh
Bab II Teori Belajar  Unduh
Bab III Kurikulum 2013  Unduh
Bab IV Desain Pembelajaran   Unduh
Bab V Media Pembelajaran  Unduh
Bab VI Perencanaan dan Pelaksanaan Pembelajaran   Unduh
Bab VII Penilaian dan Evaluasi Pembelajaran   Unduh
Bab VIII Refleksi Pembelajaran dan PTK   Unduh

 

Foto Kegiatan Mendekorasi Kelas IX-2 TP. 2016/2017

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

GAYA BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN (Bagian 2)

Ada beberapa tipe gaya belajar yang bisa kita cermati dan mungkin kita ikuti apabila memang kita merasa cocok dengan gaya itu.

  1. Gaya Belajar Visual (Visual learners)

Gaya belajar seperti ini menjelaskan bahwa kita harus melihat dulu buktinya untuk kemudian bisa mempercayainya.

Ada beberapa karakteristik yang khas bagi orang-orang yang menyukai gaya belajar visual ini. Pertama, kebutuhan melihat sesuatu (informasi/ pelajaran) secara visual untuk mengetahuinya atau memahaminya; Kedua, memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna; ketiga, memiliki pemahaman yang cukup terhadap masalah artistic; keempat, memiliki kesulitan dalam berdialog secara langsung; kelima, terlalu reaktif terhadap suara; keenam, sulit mengikuti anjuran secara lisan; ketujuh, seringkali salah menginterpretasikan kata atau ucapan.

Untuk mengatasi ragam masalah di atas, ada beberapa pendekatan yang bisa digunakan sehingga belajar tetap bisa dilakukan dengan memberikan hasil yang menggembirakan. Salah satunya adalah menggunakan beragam bentuk grafis untuk menyampaikan informasi atau materi pelajaran. Perangkat grafis itu bisa berupa film, slide, gambar ilustrasi, coretan-coretan, kartu bergambar, catatan dan kartu-kartu gambar berseri yang bisa digunakan untuk menjelaskan suatu informasi secara berurutan.

  1. Gaya Belajar Auditory Learners

Gaya belajar auditory learners adalah gaya belajar yang mengandalkan pada pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya. Karakteristik model belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, kita harus mendengar, baru kemudian bisa mengingat dan memahami informasi itu. Karakter pertama orang yang memiliki gaya belajar ini adalah semua informasi hanya bisa diserap melalui pendengaran, kedua, memiliki kesulitan untuk menyerap informasi dalam bentuk tulisan secara langsung, ketiga, memiliki kesulitan menulis ataupun membaca.

Ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan untuk belajar apabila kita termasuk orang yang memiliki kesulitan-kesulitan belajar seperti di atas. Pertama adalah menggunakan tape perekam sebagai alat bantu. Alat ini digunakan untuk merekam bacaan atau catatan yang dibacakan atau ceramah pengajar di depan kelas untuk kemudian didengarkan kembali. Pendekatan kedua yang bisa dilakukan adalah dengan wawancara atau terlibat dalam kelompok diskusi. Sedangkan pendekatan ketiga adalah dengan mencoba membaca informasi, kemudian diringkas dalam bentuk lisan dan direkam untuk kemudian didengarkan dan dipahami. Langkah terakhir adalah dengan melakukan review secara verbal dengan teman atau pengajar.

  1. Gaya Belajar Tactual Learners

Dalam gaya belajar ini kita harus menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar kita bisa mengingatnya. Ada beberapa karakteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya. Pertama adalah menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar kita bisa terus mengingatnya. Kedua, hanya dengan memegang kita bisa menyerap informasinya tanpa harus membaca penjelasannya. karakter ketiga adalah  kita termasuk orang yang tidak bisa/tahan duduk terlalu lama untuk mendengarkan pelajaran. Keempat, kita merasa bisa belajar lebih baik apabila disertai dengan kegiatan fisik. karakter terakhir, orang yang memiliki gaya belajar ini memiliki kemampuan mengoordinasikan sebuah tim dan kemampuan mengendalikan gerak tubuh (athletic ability).

Untuk orang-orang yang memiliki karakteristik seperti di atas, pendekatan belajar yang mungkin bisa dilakukan adalah belajar berdasarkan atau melalui pengalaman dengan menggunakan berbagai model atau peraga, bekerja di laboratorium atau bermain sambil belajar. Cara lain yang bisa digunakan adalah secara tetap membuat jeda di tengah waktu belajar. Tak jarang, orang yang cenderung memiliki karakter tactual learner juga akan lebih mudah menyerap dan memahami informasi dengan cara menjiplak gambar atau kata untuk belajar mengucapkannya atau memahami fakta.

Penggunaan computer bagi orang yang memiliki karakter tactual learner akan sangat membantu. Karena, dengan computer ia bisa terlibat aktif dalam melakukan touch sekaligus menyerap informasi dalam bentuk gambar dan tulisan. Selain itu, agar belajar menjadi efektif dan berarti, orang dengan karakter di atas disarankan untuk menguji  memori ingatan dengan cara melihat langsung fakta di lapangan.

Daftar Pustaka
Hamzah B. Uno (2008), Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran, hal: 181-182, Cetakan 3, Jakarta: Bumi Aksara.

 

 

GAYA BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN (Bagian 1)

Lain ladang, lain ikannya. Lain orang, lain pula gaya belajarnya. Pepatah tersebut memang pas untuk menjelaskan fenomena bahwa tak semua orang punya gaya belajar yang sama. Termasuk apabila mereka bersekolah di sekolah yang sama atau bahkan duduk di kelas yang sama.

Kemampuan seseorang untuk memahami dan menyerap pelajaran sudah pasti berbeda tingkatnya. Ada yang cepat, sedang, dan ada pula yang sangat lambat. Oleh karena itu, mereka seringkali harus menempuh cara berbeda untuk bisa memahami sebuah informasi atau pelajaran yang sama.

Sebagian siswa lebih suka guru mereka mengajar dengan cara menuliskan segalanya di papan tulis. Dengan begitu mereka bisa membaca untuk kemudian mencoba memahaminya. Akan tetapi, sebagian siswa lain lebih suka guru mereka mengajar dengan cara menyampaikannya secara lisan dan mereka mendengarkan untuk bisa memahaminya. Sementara itu, ada siswa yang lebih suka membentuk kelompok kecil untuk mendiskusikan pertanyaan yang menyangkut pelajaran tersebut.

Cara lain yang juga kerap disukai banyak siswa adalah model belajar yang menempatkan guru tak ubahnya seorang penceramah. Guru diharapkan bercerita panjang lebar tentang beragam teori dengan segudang ilustrasinya, sementara para siswa mendengarkan sambil menggambarkan isi ceramah itu dalam bentuk yang hanya mereka pahami sendiri.

Apa pun cara yang dipilih, perbedaan gaya belajar itu menunjukkan cara tercepat dan terbaik bagi setiap individu untuk bisa menyerap sebuah informasi dari luar dirinya. Jika kita bisa memahami bagaimana perbedaan gaya belajar setiap orang itu, mungkin akan lebih mudah bagi kita jika suatu ketika, misalnya, kita harus memandu seseorang untuk mendapatkan gaya belajar yang tepat dan memberikan hasil yang maksimal bagi dirinya.

Sebelum kita sendiri mengajarkannya pada orang lain, langkah terbaik adalah mengenali gaya belajar kita sendiri. Pertimbangan ini yang seringkali dilupakan. Dengan kata lain, kita sendiri harus merasakan pengalaman mendapatkan gaya belajar yang tepat bagi dirinya sendiri, sebelum menularkannya pada orang lain. Ada banyak alasan dan keuntungan yang bisa kita dapatkan apabila kita mampu memahami ragam gaya belajar, termasuk gaya kita sendiri.

Kalangan orang tua, biasanya menyerap banyak pengetahuan tentang gaya belajar, berdasarkan pengalaman yang telah mereka lewati. Misalnya, mereka pernah bekerja, menjalani latihan militer, mendidik dan membimbing anak, dan sebagainya. Rangkaian pengalaman yang mereka lewati itu, sesungguhnya adalah bagian dari cara mereka mendapatkan pelajaran berarti yang mungkin bisa kita serap untuk melihat seperti apa sebetulnya gaya belajar yang tepat bagi kita. Apa pun gaya yang akan kita pilih dan ikuti, hal terpenting yang tak boleh dilupakan: lakukan apa yang memang akan bermanfaat bagi Anda!

Daftar Pustaka
Hamzah B. Uno (2008), Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran, hal: 180-181, Cetakan 3, Jakarta: Bumi Aksara.