Menggali Potensi Peserta Didik (Bagian 3)

Munandar (1992) mengungkapkan ciri-ciri (indikator) peserta didik berbakat sebagai berikut.

1. Indikator Intelektual/Belajar

  • Mudah menangkap pelajaran.
  • Mudah mengingat kembali.
  • Memiliki perbendaharaan kata yang luas.
  • Penalaran tajam (berpikir logis, kritis, memahami hubungan sebab akibat).
  • Daya konsentrasi baik (perhatian tidak mudah teralihkan).
  • Menguasai banyak bahan tentang macam-macam topic.
  • Senang dan sering membaca.
  • Mampu mengungkapkan pikiran, perasaan atau pendapat secara lisan/tertulis dengan lancar dan jelas.
  • Mampu mengamati secara cermat.
  • Senang mempelajari kamus, peta, dan ensiklopedi.
  • Cepat memecahkan soal.
  • Cepat menemukan kekeliruan atau kesalahan.
  • Cepat menemukan asas dalam suatu uraian.
  • Mampu membaca pada usia lebih muda.
  • Daya abstraksi cukup tinggi.
  • Selalu sibuk menangani berbagai hal.2. Indikator Kreativitas
  • Memiliki rasa ingin tahu yang besar.
  • Sering mengajukan pertanyaan yang berbobot.
  • Memberikan banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah.
  • Mampu menyatakan pendapat secara spontan dan tidak malu-malu.
  • Mempunyai/menghargai rasa keindahan.
  • Mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya, tidak mudah terpengaruh orang lain.
  • Memiliki rasa humor tinggi.
  • Mempunyai daya imajinasi yang kuat.
  • Mampu mengajukan pemikiran, gagasan pemecahan masalah yang berbeda dari orang lain (orisinil).
  • Dapat bekerja sendiri.
  • Senang mencoba hal-hal baru.
  • Mampu mengembangkan atau merinci suatu gagasan (kemampuan elaborasi).3. Indikator Motivasi
  • Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu yang lama, tidak berhenti sebelum selesai).
  • Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa).
  • Tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi.
  • Ingin mendalami bahan/bidang pengetahuan yang diberikan.
  • Selalu berusaha berprestasi sebaik mungkin (tidak cepat puas dengan prestasinya).
  • Menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah “orang dewasa” (misalnya terhadap pembangunan, korupsi, keadilan, dan sebagainya).
  • Senang dan rajin belajar, penuh semangat, cepat bosan dengan tugas-tugas rutin, dapat mempertahankan pendapat-pendapatnya (kalau sudah yakin akan sesuatu, tidak mudah melepaskan hal yang diyakini tersebut).
  • Mengejar tujuan-tujuan jangka panjang (dapat menunda pemuasan kebutuhan sesaat yang ingin dicapai kemudian).
  • Senang mencari dan memecahkan soal-soal.

 Daftar Pustaka
Hamzah B. Uno dan Masri Kuadrat (2009), Mengelola Kecerdasan Dalam Pembelajaran (Sebuah Konsep Pembelajaran Berbasis Kecerdasan), hal: 20-22, Edisi 1, Cetakan 1, Jakarta: Bumi Aksara.

 

 

 

Menggali Potensi Peserta Didik (Bagian 2)

Bakat peserta didik dapat mengarah pada kemampuan numeric, mekanik, berpikir abstrak, relasi ruang (spasial), dan berpikir verbal. Minat seseorang secara vokasional dapat berupa minat professional, minat komersial, dan minat kegiatan fisik. Minat profesional mencakup minat-minat keilmuan dan sosial. Minat komersial adalah minat yang mengarah pada kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan bisnis. Minat fisik mencakup minat mekanik, minat kegiatan luar, dan minat navigasi (kedirgantaraan/penerbangan).

Bakat dan minat berpengaruh pada prestasi matapelajaran tertentu. Dalam satu kelas, bakat dan minat peserta didik yang satu berbeda dengan bakat dan minat peserta didik yang lainnya. Namun, setiap peserta didik diharapkan dapat menguasai semua materi pelajaran yang diajarkan oleh guru di sekolah. Dengan bakat dan minat masing-masing, prestasi peserta didik pada mata pelajaran tertentu akan berbeda dengan prestasi belajar peserta didik yang lain pada mata pelajaran yang sama. Selain itu, prestasi peserta didik pada mata pelajaran yang satu bisa berbeda dengan prestasinya pada pelajaran yang lain.

Ada tiga kelompok cirri keberbakatan, yaitu (1) kemampuan umum yang tergolong di atas rata-rata (above average ability), (2) kreativitas (creativity) tergolong tinggi, (3) komitmen terhadap tugas (task commitment) tergolong tinggi. Lebih lanjut Yaumil (1991) menjelaskan bahwa: (1) Kemampuan umum di atas rata-rata merujuk pada kenyataan antara lain bahwa peserta didik berbakat memiliki perbendaharaan kata yang lebih banyak dan lebih maju dibandingkan peserta didik biasa; cepat menangkap hubungan sebab akibat; cepat memahami prinsip dasar dari suatu konsep; seorang pengamat yang tekun dan waspada; mengingat dengan tepat serta memiliki informasi aktual; selalu bertanya-tanya; cepat sampai pada kesimpulan yang tepat mengenai kejadian, fakta, orang, atau benda. (2) Ciri-ciri kreativitas antara lain: menunjukkan rasa ingin tahu yang luar biasa; menciptakan berbagai ragam dan jumlah gagasan guna memecahkan persoalan; sering mengajukan tanggapan yang unik dan pintar; tidak terhambat mengemukakan pendapat; berani mengambil risiko; suka mencoba; peka terhadap keindahan dan segi-segi estetika dari lingkungannya. (3) Komitmen terhadap tugas sering dikaitkan dengan motivasi instrinsik untuk berprestasi, ciri-cirinya mudah terbenam dan benar-benar terlibat dalam suatu tugas; sangat tangguh dan ulet menyelesaikan masalah; bosan menghadapi tugas rutin; mendambakan dan mengejar hasil sempurna; lebih suka bekerja secara mandiri; sangat terikat pada nilai-nilai baik dan menjauhi nilai-nilai buruk; bertanggung jawab, berdisiplin; sulit mengubah pendapat yang telah diyakininya.

Daftar Pustaka
Hamzah B. Uno dan Masri Kuadrat (2009), Mengelola Kecerdasan Dalam Pembelajaran (Sebuah Konsep Pembelajaran Berbasis Kecerdasan), hal: 18-20, Edisi 1, Cetakan 1, Jakarta: Bumi Aksara.

 

Menggali Potensi Peserta Didik (Bagian 1)

Potensi sumber daya manusia merupakan asset nasional sekaligus sebagai modal dasar pembangunan bangsa. Potensi ini hanya dapat digali dan dikembangkan serta dipupuk secara efektif melalui strategi pendidikan dan pembelajaran yang terarah dan terpadu, yang dikelola secara serasi dan seimbang dengan memerhatikan pengembangan potensi peserta didik secara utuh dan optimal. Karena itu, strategi manajemen pendidikan perlu secara khusus memerhatikan pengembangan potensi peserta didik yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa (unggul), yaitu dengan cara penyelenggaraan program pembelajaran yang mampu mengembangkan keunggulan-keunggulan tersebut, baik keunggulan dalam hal potensi intelektual maupun bakat khusus yang bersifat keterampilan (gifted and talented).

Strategi pembelajaran yang dilaksanakan selama ini masih bersifat missal, yang memberikan perlakuan dan layanan pendidikan yang sama kepada semua peserta didik. Padahal, mereka berbeda tingkat kecakapan, kecerdasan, minat, bakat, dan kreativitasnya. Strategi pelayanan pendidikan seperti ini memang tepat dalam konteks pemerataan kesempatan, tetapi kurang menunjang usaha mengoptimalisasikan pengembangan potensi peserta didik secara cepat.

Hasil beberapa penelitian Depdikbud (1994), menunjukkan sekitar sepertiga peserta didik yang dapat digolongkan sebagai peserta didik berbakat (gifted and talented) mengalami gejala “prestasi kurang” (underachiever). Hal sama dikemukakan oleh Munandar (1992), cukup banyak peserta didik berbakat yang prestasinya di sekolah tidak mencerminkan potensi intelektual mereka yang menonjol. Salah satu penyebabnya adalah kondisi-kondisi eksternal atau lingkungan belajar yang kurang menunjang, kurang menantang mereka untuk mewujudkan kamampuannya secara optimal.

Padahal, upaya untuk mencapai keunggulan melalui strategi pelayanan pendidikan massal akan memiliki konsekuensi sumber daya pendidikan (dana, tenaga, dan sarana) yang kurang menguntungkan. Model strategi pelayanan pendidikan alternatif perlu dikembangkan untuk menghasilkan peserta didik yang unggul melalui pemberian perhatian, perlakuan dan layanan pendidikan berdasarkan bakat, minat, dan kemampuannya.

Agar pelayan pendidikan yang selama ini diberikan kepda peserta didik mencapai sasaran yang optimal, maka pembelajaran harus diselaraskan dengan potensi peserta didik. Karena itu, guru perlu melakukan pelacakan potensi peserta didik.

Daftar Pustaka
Hamzah B. Uno dan Masri Kuadrat (2009), Mengelola Kecerdasan Dalam Pembelajaran (Sebuah Konsep Pembelajaran Berbasis Kecerdasan), hal: 2-3, Edisi 1, Cetakan 1, Jakarta: Bumi Aksara.

 

Kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence)

Teori Gardner tentang kecerdasan ganda (multiple intelligences) selanjutnya dikembangkan dan dilengkapi oleh para ahli lain. Diantaranya adalah Daniel Goleman (1995) melalui bukunya yang terkenal, Emotional Intelligence.

Dari kedelapan spectrum kecerdasan yang dikemukakan oleh Gardner, Goleman mencoba memberi tekanan pada aspek kecerdasan interpersonal atau antarpribadi. Intisari kecerdasan ini mencakup kemampuan untuk membedakan dan menanggapi dengan tepat suasana hati, temperamen, motivasi, dan hasrat keinginan orang lain. Namun menurut Gardner, kecerdasan antarpribadi ini lebih menekankan pada aspek kognisi atau pemahaman, sementara factor emosi atau perasaan kurang diperhatikan.

Menurut Goleman, faktor emosi ini sangat penting dan memberikan suatu warna yang kaya dalam kecerdasan antarpribadi. Ada lima wilayah kecerdasan pribadi dalam bentuk kecerdasan emosional. Lima wilayah tersebut adalah kemampuan mengenali emosi diri, kemampuan mengelola emosi, kemampuan memotivasi diri, kemampuan mengenali emosi orang lain, dan kemampuan membina hubungan. Secara rinci lima wilayah kecerdasan tersebut dijelaskan sebagai berikut.

1. Kemampuan Mengenali Emosi Diri
Kemampuan mengenali emosi diri adalah kemampuan seseorang dalam mengenali perasaannya sendiri saat perasaan atau emosi itu muncul. Ini sering dikatakan sebagai dasar dari kecerdasan emosional. Seseorang yang mengenali emosinya sendiri adalah apabila ia memiliki kepekaan yang tajam atas perasaan mereka yang sesungguhnya dan kemudian mengambil keputusan-keputusan secara mantap, dalam hal ini misalnya sikap yang diambil dalam menentukan berbagai pilihan seperti memilih sekolah, sahabat, sampai soal pasangan hidup.

2. Kemampuan Mengelola Emosi
Kemampuan mengelola emosi adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan perasaannya sendiri sehingga tidak meledak dan akhirnya dapat memengaruhi perilakunya secara salah. Mungkin dapat diibaratkan sebagai seorang pilot pesawat yang dapat membawa pesawatnya ke suatu kota tujuan kemudian mendaratkannya secara mulus. Misalnya, seseorang yang sedang marah dapat mengendalikan kemarahannya secara baik tanpa harus menimbulkan akibat yang akhirnya disesalinya di kemudian hari.

3. Kemampuan Memotivasi Diri
Kemampuan memotivasi diri adalah kemampuan memberikan semangat kepada diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat. Dalam hal ini terkandung unsure harapan dan optimism yang tinggi sehingga memiliki kekuatan semangat untuk melakukan aktivitas tertentu, misalnya dalam hal belajar, bekerja, menolong orang lain, dan sebagainya.

4. Kemampuan Mengenali Emosi Orang Lain
Kemampuan mengenali emosi orang lain adalah kemampuan untuk mengerti perasaan dan kebutuhan orang lain sehingga orang lain akan merasa senang dan dimengerti perasaannya. Kemampuan ini sering pula disebut sebagai  kemampuan berempati, mampu menangkap pesan nonverbal dari orang lain. Dengan demikian, peserta didik ini akan cenderung disukai orang.

5. Kemampuan Membina Hubungan
Kemampuan membina hubungan adalah kemampuan untuk mengelola emosi orang lain sehingga tercipta ketrampilan sosial yang tinggi dan membuat pergaulan seseorang menjadi lebih luas. Peserta didik dengan kemampuan ini cenderung mempunyai banyak teman, pandai bergaul, dan menjadi lebih populer.

Dengan demikian, dapat disimpulkan betapa pentingnya kecerdasan emosional dikembangkan pada diri peserta didik. Banyak dijumpai peserta didik yang begitu cerdas di sekolah, begitu cemerlang prestasi akademiknya, namun tidak mampu mengelola emosinya, seperti mudah marah, mudah putus asa, atau angkuh dan sombong sehingga prestasi tersebut tidak banyak bermanfaat untuk dirinya. Ternyata kecerdasan emosional perlu lebih dihargai dan dikembangkan pada peserta didik sejak usia dini karena hal inilah yang mendasari keterampilan seseorang di tengah masyarakat kelak sehingga akan membuat seluruh potensinya dapat berkembang secara lebih optimal.

Daftar Pustaka
Hamzah B. Uno dan Masri Kuadrat (2009), Mengelola Kecerdasan Dalam Pembelajaran (Sebuah Konsep Pembelajaran Berbasis Kecerdasan), hal: 15-17, Edisi 1, Cetakan 1, Jakarta: Bumi Aksara.

 

MEMORI PADA MANUSIA

Seperti halnya sebuah komputer, otak kita memiliki dua memori dasar: memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Memori jangka pendek bisa dianalogikan dengan RAM (Random Access Memory) pada computer. Informasi yang diterima oleh pancaindera menunggu dengan singkat di memori kerja ini yang kemudian akan dihapus setelah dipakai untuk kemudian digunakan guna mengolah informasi lainnya. Informasi terbaru disimpan setelah terjadi proses perubahan kimia dan listrik pada sel-sel saraf atau neuron.

Memori jangka pendek memungkinkan kita untuk membuat hitungan sederhana di kepala atau mengingat nomor telepon seseorang dalam waktu cukup lama, walaupun begitui selesai menelepon kita mungkin langsung melupakannya. Pendeknya, seperti halnya RAM, otak kita bisa menganalisis dan menyimpan informasi tanpa membuat rekaman yang permanen.

Di lain pihak, memori jangka panjang bertindak sebagai hard disk, yang secara fisik menyimpan informasi dalam jangka panjang. Memori jangka panjang ini disimpan di daerah otak yang disebut selebral korteks (kulit luar otak). Korteks merupakan rumah bagi belukar 100 milyar sel neuron yang membentuk struktur mirip tumbuhan merambat. Komunikasi antar sel neuron terjadi lewat pancaran impuls-impuls kimia dan listrik.

Memori pada otak manusia adalah pola komunikasi antar neuron. Bila suatu memori baru diperoleh, pengkodeannya bisa melibatkan ribuan neuron yang tersebar di seluruh korteks. Akan tetapi, jika informasi baru itu tidak digunakan, pola koneksi yang baru terbentuk itu akan segera pupus kembali. Sebaliknya, jika kita berulang-ulang mengingatnya lagi maka pola koneksi akan semakin kokoh terbentuk dalam jaringan otak.

Meskipun demikian, keputusan untuk menyimpan atau membuang informasi biasanya dilakukan tanpa sadar karena berada di bawah kendali hippocampus, berdasarkan pada dua pertanyaan: Pertama, apakah informasi itu memiliki arti emosional bagi yang bersangkutan? Misalnya, bagi orang semacam saya, transaksi yang melibatkan uang sebesar 40 M jelas harus dimasukkan pada memori jangka panjang, jika perlu akan saya catat di weblog. Akan tetapi, bagi orang-orang tertentu, ini mungkin dianggap kurang penting sehingga cukup masuk di memori jangka pendek. Nantinya, kalau ditanya, jawabnya cukup “lupa” saja. Pertanyaan kedua, apakah informasi yang masuk berhubungan dengan hal yang sudah kita ketahui? Salah satu implementasinya, adalah dengan membuat asosiasi. Contohnya, bisa kita kita lihat pada teknik “ jembatan keledai” untuk menghafalkan sesuatu hal, misalnya istilah “mejikuhibiniu” untuk menghafalkan warna-warna pelangi. Mengingat-ingat nama seorang kenalan dengan mengaitkannya dengan kondisi fisik atau pembawaannya juga merupakan salah satu cara bagi otak untuk menyimpan informasi dalam memori jangka panjang. Continue reading →

MISTERI OTAK

Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna. Kalimat tersebut sering menjadi suatu pertanyaan bagi mereka yang belum menyadari bahwa manusia diberikan sebuah fasilitas yang sangat mewah oleh Tuhan. Manusia diberikan fasilitas tersebut untuk dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dan salah satu fasilitas yang banyak memberikan kontribusi dalam berpikir adalah otak.

Otak merupakan organ yang terbentuk pertama kali. Sejak janin berusia 10 minggu sampai 12 minggu sejak pembuahan, sebelum retina mata bayi atau sebelum gambar samar-samar paling awal terbayang konteksnya.

Sel-sel saraf otak yang berkembang sibuk dengan kegiatan terencana. Prof. Carla Shatz dari Universitas of California Berkeley, mengatakan bahwa sel-sel pada suatu daerah otak menghubungi bagian tubuh yang lain secara kontinu dan otomatis.

Sebagian besar yang memadati otak adalah neuron. Neuron adalah sel saraf yang panjang seperti kawat yang menghantarkan listrik lewat sistem saraf dan otak. Neuron ini mengirimkan sinyal dengan menyebar secara terencana, semburan listrik terhentak-hentak yang membentuk bunyi yang jelas (kertak-kertuk) yang timbul dari gelombang kegiatan neuron yang terkoordinasi, dimana gelombang itu sebenarnya sedang mengubah bentuk otak dan membentuk sirkuit otak menjadi pola-pola yang lama-kelamaan akan menyebabkan bayi yang lahir nanti mampu menangkap suara, sentuhan, dan gerakan.

Otak bayi yang baru lahir mengandung 100 milyar neuron dan 1 triliun sel galia. Sel galia membentuk semacam sarang yang melindungi dan memberikan makanan kepada neuron. Sesudah kelahiran kegiatan neuronlah yang memberikan peran untuk mengambil bagian kasar ini dan berangsur-angsur menghaluskannya, dan sesudah kelahiran kegiatan neuron sudah tidak spontan lagi, tetapi digerakkan oleh pengalaman indra yang diterima.

Saat dilahirkan, otak bayi menghasilkan banyak faktor biologis berupa triliunan sambungan antara neuron yang banyak dan melebihi kebutuhan selanjutnya, melalui suatu proses alamiah (teori Darwin) otak memusnahkan sambungan yang jarang digunakan selama usia 10 tahun sehingga yang tertinggal adalah otak yang pola emosi dan pola pikirnya unik/tetap. Kegiatan neuron memicu aliran biokimia yang melimpah mencapai inti sel dan gulungan DNA yang menentukan kode gen-gen tertentu. DNA yang digunakan embrio untuk membangun otaknya adalah kerumitan kegiatan yang kelak juga akan memungkinkan organisme dewasa memproses dan menyimpan informasi baru, sedangkan RNA berfungsi sebagai perantara kimiawi bagi memori. Continue reading →

TEORI KECERDASAN GANDA (Bagian 3)

Asumsi adanya potensi kecerdasan ganda pada anak muncul berdasarkan paradigm bahwa setiap anak yang lahir telah memiliki potensi genius. Thomas Armstrong menegaskan dalam tulisannya yang bertajuk Natural Genius of Children bahwa setiap anak adalah genius. Setiap anak dilahirkan dengan kemampuan tertentu. Setiap anak dilahirkan ke dunia dengan kekaguman, keingintahuan, spontanitas, vitalitas, fleksibilitas, dan banyak lagi kesenangan lain baginya. Anak kecil akan secara langsung menguasai sistem simbol yang rumit, otak cemerlang, kepribadian sensitive dan akselerasi terhadap setiap stimulasi, tanpa pendidikan secara formal. Dalam hal ini, adalah kewajiban orang tua di rumah dan guru di taman kanak-kanak untuk memelihara setiap kecerdasan anak sejak dini. Kegeniusan alami tersebut hendaklah dipelihara dan ditumbuhkembangkan secara optimal oleh orang dewasa.

Menurut Howard Gardner, kecerdasan anak bukan hanya berdasarkan pada skor standar semata (tes IQ), melainkan dengan ukuran (1) kemampuan menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan individu; (2) kemampuan menghasilkan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan; (3) kemampuan menciptakan sesuatu atau memberikan penghargaan dalam budaya seseorang.

Teori kecerdasan ganda (multiple intelligences) dikembangkan Gardner berdasarkan pandangannya bahwa kecerdasan pada saat sebelumnya hanya dilihat dari segi linguistic dan logika. Padahal, ada berbagai kecerdasan dan orang-orang dengan kecerdasan tipe lain yang tidak diperhatikan. Kecerdasan jamak adalah sebuah penilaian yang dilihat secara deskriptif bagaimana individu menggunakan kecerdasannya untuk memecahkan masalah dan menghasilkan sesuatu. Pendekatan ini merupakan suatu alat yang digunakan untuk melihat pikiran manusia mengoperasikan lingkungannya, baik yang berhubungan dengan benda-benda konkret maupun abstrak.

Bagi Gardner, tidak ada anak bodoh, yang ada anak yang menonjol pada satu atau beberapa jenis kecerdasan. Dengan demikian, dalam menilai dan menstimulasi kecerdasan anak, orang tua dan guru selayaknya dengan jeli dan cermat merancang sebuah metode khusus yang dapat membantu merangsang potensi kecerdasan ganda anak tersebut. Continue reading →

TEORI KECERDASAN GANDA (Bagian 2)

Dari hasil penelitian, kecerdasan ganda sudah terdapat dalam diri masing-masing orang, namun karena tidak terasah sejak kecil sehingga tidak semua jenis kecerdasan ganda dapat berkembang optimal. Karena itu, tidak aneh apabila kita temukan seorang dewasa misalnya, ada saja yang memiliki kecerdasan verbal lebih buruk disbanding kecerdasan matematisnya. Atau kecerdasan spasial seseorang lebih baik disbanding kecerdasan musikalnya. Tentunya, seperti digambarkan pada tulisan ini, beragam kecerdasan ini kemudian dapat ditingkatkan melalui pembelajaran atau pelatihan.

Sedemikian banyaknya hal yang terkait dalam kecerdasan ganda, dan melandasi beberapa jenis profesi yang ada di zaman teknologi informasi sekarang ini, hingga di AS, sejak 10 tahun terakhir, tes kecerdasan ganda sudah menggeser penggunaan tes-tes konvensional untuk penerimaan calon karyawan. Tujuannya adalah, agar setiap penerimaan didasarkan pada kecerdasan ganda yang dimiliki dan melandasi (menjadi dasar) suatu profesi. Dengan begitu, seseorang dengan predikat summa cum laude di bidang matematis misalnya, tidak akan sia-sia hanya karena ia begitu pendiam, dan bahkan gagap ketika berdialog dengan Anda. Karena nantinya, Anda sudah siap dengan seperangkat pengetahuan tentang kecerdasan ganda, mengetahui kiat untuk meningkatkan atau mengatasi kekurangan si karyawan cerdas tersebut.

Verbal: Ketrampilan kerja: berceramah, bercerita, memberi informasi, memberi petunjuk, menulis, menyusun kata-kata, berbicara dalam bahasa asing, menafsirkan, menerjemahkan, mengajar, memberi kuliah, berdiskusi, berdebat, melakukan penelitian, mendengarkan kata-kata, meniru, memeriksa naskah, menyunting, memproses kata, membuat berkas, membuat laporan.

Meningkatkannya: adakan permainan merangkai kata, buatlah buku harian atau usahakan untuk menulis tentang apa saja yang ada dalam pikiran setiap harinya sebanyak 250 kata, dan sediakan waktu untuk bercerita secara teratur dengan keluarga atau sahabat. Continue reading →

TEORI KECERDASAN GANDA (Bagian 1)

Melalui konsepnya mengenai kecerdasan ganda (multiple intelligences) ini, Gardner mengoreksi keterbatasan cara berpikir yang konvensional mengenai kecerdasan dari tunggal menjadi jamak. Kecerdasan tidak terbatas pada kecerdasan intelektual yang di ukur dengan menggunakan beberapa tes inteligensi yang sempit saja atau sekedar melihat prestasi yang ditampilkan seorang peserta didik melalui ulangan maupun ujian di sekolah belaka. Akan tetapi, kecerdasan juga menggambarkan kemampuan peserta didik pada bidang seni, spasial, olahraga, berkomunikasi, dan cinta akan lingkungan.

Howard Gardner (1993) menegaskan bahwa skala kecerdasan yang selama ini dipakai, ternyata memiliki banyak keterbatasan sehingga kurang dapat meramalkan kinerja yang sukses untuk masa depan seseorang. Menurut Gardner, kecerdasan seseorang meliputi unsur-unsur kecerdasan matematika logika, kecerdasan bahasa, kecerdasan musikal, kecerdasan visual spasial, kecerdasan kinestetis, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Secara rinci masing-masing kecerdasan tersebut dijelaskan sebagai berikut. Continue reading →

5 Nilai Budaya Kerja Kementerian Agama

1. INTEGRITAS
Keselarasan antara hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik dan benar

2. PROFESIONALITAS
Bekerja secara disiplin, kompeten, dan tepat waktu dengan hasil terbaik

3. INOVASI
Menyempurnakan yang sudah ada dan mengkreasi hal baru yang lebih baik

4. TANGGUNG JAWAB
Bekerja secara tuntas dan konsekuen

5. KETELADANAN
Menjadi contoh yang baik bagi orang lain

HADIAH BAGI SISWA YANG MASUK KELAS TEPAT WAKTU

Oleh: Jumadal Afrizal, S.Si, M.Pd

edit-sendiriCara guru memberikan penghargaan tidaklah harus selalu sama, bisa saja berbentuk sertifikat atau piagam penghargaan, atau bisa saja dengan hadiah berupa buku tulis, pulpen dan lain sebagainya. Apapun bentuk penghargaan yang diberikan kepada siswa sangat tergantung dari seberapa banyak ide-ide kreatif yang dimiliki oleh seorang guru untuk memperlihatkan apresiasinya bagi siswa di kelasnya. Tujuan dari apresiasi tersebut tentu saja untuk memberikan energi positif ke dalam jiwa anak-anak kita bahwa guru tidak hanya pandai menghukum saja, memarahi, membentak bahkan mengintimidasi atau mengancam –seharusnya perilaku kekasaran berbentuk verbal tidak boleh lagi terjadi di lingkungan sekolah walaupun kenyataannya sering kita jumpai bahkan terjadi di depan mata kita– guru tidak hanya pandai mencari-cari kesalahan yang dilakukan oleh siswa dengan hukuman dan sangsi-sangsi tapi juga harus diimbangi dengan kepandaian memberikan spirit motivasi bagi anak-anak didiknya agar pada diri anak-anak kita terbangun mental yang seimbang dengan memperbanyak energi-energi positif dalam jiwa mereka sehingga karakter yang terbentuk tidak menjadi pribadi yang keras dan kasar akibat perlakuan-perlakuan kasar dan keras di sekolah/di kelas, tapi dapat terfilterisasi oleh perlakuan yang positif dari gurunya. Karena kesalahan dalam mendidik akan berakibat bagi mental dan karakter anak didik kita dalam jangka panjang, maka guru harus memiliki semangat edukasi yang lebih tinggi daripada semangat untuk menghakimi anak didik.

Ingatlah nasehat bijak bahwa anak itu ibarat kertas putih yang tidak memiliki noda sedikitpun, jadi kertas putih itu bisa berubah menjadi hitam, merah, biru, abu-abu dan lain sebagainya tergantung bagaimana cara orang dewasa mengisinya atau menuliskannya. Mengisinya dengan cara yang kasar dan keras maka jiwa si anak akan berubah menjadi kasar dan keras tidak punya hati nurani. Sebaliknya jika cara mengisinya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang maka jiwa anak-anak kita menjadi lembut dan penuh kasih sayang terhadap orang lain, mudah menerima nasehat, mau mendengarkan pendapat orang lain, tidak egoistis dan mudah diajak berdialog. Tidak menjadi anak yang suka memaksakan pendapatnya dengan bahasa verbal yang kasar dan adu jotos. Tentu saja kita menginginkan generasi mendatang memiliki karakter kepribadian yang mulia. Maka mulailah ajari anak-anak kita dengan contoh-contoh yang baik dengan cara kita lebih dulu menghargai setiap usaha-usaha yang baik yang diperlihatkan anak didik kita. Dengan menghargai setiap usaha yang dilakukan anak didik berarti kita telah mengisi jiwa anak-anak didik kita dengan energi positif yang sangat penting bagi perkembangan dan pembentukan mental dan karakter anak didik kita. Maka hargailah anak-anak didik kita walau sekecil apapun bentuk penghargaan itu.

Berikut adalah kegiatan “Penyerahan Hadiah Bagi Siswa yang Masuk Kelas Tepat Waktu” :

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Baca juga artikel lain yang terkait:
https://jumadalafrizal.wordpress.com/2017/01/27/piagam-penghargaan-bagi-piket-kelas-terbaik/

https://jumadalafrizal.wordpress.com/2017/01/06/dapat-rapor-dapat-juga-piagam-penghargaan/

https://jumadalafrizal.wordpress.com/2016/12/18/acara-penyerahan-piagam-kedisiplinan-bagi-siswa-yang-masuk-kelas-tepat-waktu/


*Bagi Bapak/Ibu/Sahabat yang ingin mengutip tulisan ini harap menyebutkan sumbernya sebagai bentuk penghargaan atas hak cipta intelektual yang telah diatur oleh undang-undang. Salam persahabatan.

Piagam Penghargaan Bagi Piket Kelas Terbaik

Oleh: Jumadal Afrizal, S.Si, M.Pd

edit-sendiriKelas harus menjadi lingkungan yang menyenangkan bagi anak didik kita. Kelas harus dihiasi dengan hal-hal yang positif. Guru harus pandai memberikan penghargaan bukan hanya pandai memarahi dan menghukum saja. Berikanlah yang terbaik bagi anak didik kita dalam bentuk apresiasi positif atas segala usahanya dalam melaksanakan setiap tugas-tugas yang diberikan yang menjadi kewajibannya seperti pelaksanaan piket harian kelas. Guru harus memiliki spirit untuk senantiasa memberikan energi positif bagi anak-anak didiknya.

Lihatlah tayangan berikut ini:

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dengarkan juga rekaman suara berikut pada link dibawah ini:

https://jumadalafrizal.wordpress.com/2016/12/03/kelas-adalah-lingkungan-yang-menyenangkan/

Lebih mudah mendengarkan rekaman suaranya melalui bantuan Laptop. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi kita semua. Selamat mendengarkan!!!!

Dapat Rapor Dapat Juga Piagam Penghargaan…

Oleh: Jumadal Afrizal, S.Si, M.Pd

edit-sendiriSudah menjadi hal yang umum pada saat akhir semester dilakukan pembagian rapor. Rapor adalah laporan hasil evaluasi belajar siswa selama 1 semester yang berisi nilai-nilai dari semua mata pelajaran disertai rata-rata dan rangking atau prestasi yang dicapai peserta didik.
Maka sebelum pembagian rapor dilakukan biasanya ada seremonial pemberian hadiah bagi juara-juara kelas yang difasilitasi oleh pihak sekolah. Biasanya kegiatan seremonial ini dilakukan di lapangan sekolah atau di aula sekolah. Setelah kegiatan tersebut selesai baru dilanjutkan pembagian rapor di kelas masing-masing.
Sebagai wali kelas saya sudah menyiapkan beberapa piagam penghargaan bagi siswa-siswi di kelas saya. Jadi pada hari pembagian rapor saya tidak hanya membagikan rapor tapi juga memberikan piagam penghargaan bagi siswa-siswi di kelas saya. Penghargaan ini adalah bentuk apresiasi saya bagi mereka yang telah memberikan sumbangsihnya bagi kelas. Dengan penghargaan ini diharapkan mereka akan semakin termotivasi lagi untuk memberikan yang terbaik bagi kelasnya.

Lihatlah tayangan berikut ini:

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Acara Penyerahan Piagam Kedisiplinan Bagi Siswa Yang Masuk Kelas Tepat Waktu

Oleh: Jumadal Afrizal, S.Si, M.Pd

edit-sendiriMasalah kedisiplinan siswa adalah permasalahan yang paling sering muncul di sekolah. Pelanggaran kedisiplinan yang sering terjadi adalah berkaitan dengan tata tertib yang berlaku di sekolah yang belum dipatuhi dan dijalankan sebagaimana mesinya oleh para siswa. Misalnya pemakaian atribut sekolah baik berupa symbol ataupun seragam sekolah. Bahkan yang cukup memprihatinkan adalah kedisiplinan siswa masuk kelas tepat waktu. Sering terjadi guru yang harus menunggu siswa di kelas. Padahal bel sudah dibunyikan pertanda masuk kelas tapi kenyataannya siswa masih banyak yang berkeliaran di luar sehingga guru piket terkadang harus ekstra keras memanggil-manggil siswa bahkan terkadang mengejar pakai belahan kayu kecil untuk menakuti agar segera masuk kelas. Terkadang yang namanya mendidik itu harus banyak sabarnya tapi adakalanya guru harus juga berlaku keras pada anak didiknya karena susah sekali untuk mendengar nasehat atau bahkan berani membantah gurunya.

Maka ajakan untuk disiplin tidaklah harus selalu dengan menakut-nakuti secara fisik terkadang dibutuhkan ide lain yang lebih menyentuh perasaan siswa. Berikut ini idenya:

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kelas Adalah Lingkungan Yang Menyenangkan

Oleh: Jumadal Afrizal, S.Si, M.Pd

Sebagai wali kelas saya berkeinginan kelas saya menjadi kelas yang menyenangkan bagi anak-anak didik saya. Saya berkeinginan menjadikan kelas tempat dimana anak-anak didik saya memperoleh banyak hal-hal positif. Sehingga saya merancang kegiatan pemberian penghargaan dan kegiatan-kegiatan lainnya yang dapat menumbuhkan kreatifitas anak-anak, tidak hanya melulu belajar dan belajar. Berikut adalah motivasi yang saya berikan kepada anak-anak didik saya untuk menjadikan kelas sebagai lingkungan yang menyenangkan. Silahkan klik tanda “PLAY” (disarankan menggunakan Notebook atau Laptop untuk memutarnya):

WARNING!!!
Hak Cipta Intelektual telah diatur oleh undang-undang.

*Jika Anda menginginkan rekaman ini silakan menghubungi alamat email berikut: jumadalafrizal@gmail.com

Persembahan Dari Muridku Di Hari Guru (25 November 2016)

Oleh: Jumadal Afrizal, S.Si, M.Pd

edit-sendiri Di hari guru ini anak-anak di kelasku telah mempersiapkan segala sesuatu untuk dipersembahkan kepada guru. Kelaspun telah dihias dengan sangat cantik. Di papan tulis telah dipasang hiasan yang sangat menarik yang dibuat dari potongan kertas warna yang dilipat dengan sangat cantik disertai dengan beberapa balon warna-warni.

Begitu juga di dinding kelas telah dipasang tulisan yang sangat indah yang tersusun dari potongan-potongan kertas warna yang dilipat dengan sangat indah penuh dengan warna-warni yang masing-masing memperlihatkan huruf-huruf yang sangat indah yang bertuliskan:

HAPPY TEACHER’S DAY

Hari ini adalah hari yang benar-benar sangat mengesankan bagiku sebagai guru.

Anak-anak menyambutku dengan ceria dan membuat acara yang penuh makna untuk memberikan rasa hormat dan sayang mereka padaku guru mereka.

Terima Kasih Anak-Anakku Sekalian, Bapak Bangga Pada Kalian Semua….

Continue reading →

KA’BAH ADALAH PUSAT KOORDINAT BUMI

Oleh: Jumadal Afrizal, S.Si, M.Pd

edit-sendiri

Saya adalah guru matematika. Terkadang saya mengkaitkan materi pelajaran yang sedang saya ajarkan kepada anak didik saya dengan contoh-contoh yang ada dalam kehidupan nyata. Hal ini sering saya lakukan sebagai cara untuk membuat suasana belajar terasa menyenangkan tidak terlalu tegang. Karena mengajar matematika tentu dibutuhkan kemampuan lain yang bisa membuat anak-anak tertarik dengan sesekali bercerita tentang hal-hal yang ada kaitannya dengan pelajaran tapi ruang lingkupnya saya perluas agar wawasan anak-anak lebih kaya dengan informasi-informasi yang saya sampaikan dengan gaya bertutur yang khas. Saya juga menginginkan anak-anak didik saya mampu memahami arti kehidupan ini, tidak hanya melulu hitung-hitungan dan rumus-rumus saja. Saat rekaman ini dibuat saya sedang mengajarkan materi tentang “Sistem Koordinat”. Selamat mendengarkan rekaman suara berikut yang berjudul “Ka’bah Adalah Pusat Koordinat Bumi”. Continue reading →

Arti Kurva Normal Dalam Kehidupan Nyata

Oleh: Jumadal Afrizal, S.Si, M.Pd

edit-sendiri

Saya adalah guru matematika. Terkadang saya mengkaitkan materi pelajaran yang sedang saya ajarkan kepada anak didik saya dengan contoh-contoh yang ada dalam kehidupan nyata. Hal ini sering saya lakukan sebagai cara untuk membuat suasana belajar terasa menyenangkan tidak terlalu tegang. Karena mengajar matematika tentu dibutuhkan kemampuan lain yang bisa membuat anak-anak tertarik dengan sesekali bercerita tentang hal-hal yang ada kaitannya dengan pelajaran tapi ruang lingkupnya saya perluas agar wawasan anak-anak lebih kaya dengan informasi-informasi yang saya sampaikan dengan gaya bertutur yang khas. Saya juga menginginkan anak-anak didik saya mampu memahami arti kehidupan ini, tidak hanya melulu hitung-hitungan dan rumus-rumus saja. Saat rekaman ini dibuat saya sedang mengajarkan materi tentang statistika. Selamat mendengarkan rekaman suara berikut yang berjudul “Arti Kurva Normal Dalam Kehidupan Nyata”. Continue reading →

PENTINGNYA PERSIAPAN DIRI

Oleh: Jumadal Afrizal, S.Si, M.Pd

edit-sendiri

Berikut ini adalah motivasi pembelajaran yang saya berikan kepada anak-anak sebelum memulai proses belajar mengajar yang berjudul “Pentingnya Persiapan Diri”. Continue reading →

BERADAPTASI DENGAN LINGKUNGAN

Oleh: Jumadal Afrizal, S.Si, M.Pd

edit-sendiri

Berikut ini adalah motivasi pembelajaran yang saya berikan kepada anak-anak sebelum memulai proses belajar mengajar yang berjudul “Beradaptasi dengan Lingkungan”. Continue reading →

MENCARI ILMU PENGETAHUAN

Oleh: Jumadal Afrizal,S.Si,M.Pd

edit-sendiri

Berikut ini adalah motivasi pembelajaran yang saya berikan kepada anak-anak sebelum memulai proses belajar mengajar yang berjudul “Mencari Ilmu Pengetahuan”. Continue reading →

METODE ANALISIS KEDISIPLINAN SISWA MASUK KELAS TEPAT WAKTU

Oleh: Jumadal Afrizal, S.Si, M.Pd

edit-sendiriDi sekolah seringkali kita temukan adanya siswa yang berperilaku tidak tepat waktu saat masuk kelas pada jam pelajaran. Memang perilaku tersebut sudah umum terjadi dimana-mana. Sehingga mungkin saja sebagian guru menganggap perilaku tersebut hal yang biasa-biasa saja sehingga tidak perlu disikapi secara serius. Mungkin ada benarnya anggapan tersebut jika perilaku tersebut dilakukan oleh segelintir siswa saja sehingga masih dapat ditangani dengan komunikasi yang baik disertai nasehat yang bijak. Tapi bagaimana jika perilaku tersebut dilakukan oleh sebagian besar siswa? Tentu sangat tidak bisa ditolerir jika perilaku tersebut terus saja berulang. Sebab jika guru sudah berada di dalam kelas  sementara hampir sebagian besar siswa masih belum masuk akan sangat mempengaruhi proses belajar mengajar (PBM). Continue reading →

RUMUS K13 UNTUK NILAI KOMPETENSI SIKAP (Bagian Dua)

Oleh: Jumadal Afrizal, M. Pd*

Pada Bagian Satu saya telah menjelaskan bagaimana menghitung Nilai Kompetensi Sikap dengan menggunakan Penilaian Observasi. (Baca kembali: https://jumadalafrizal.wordpress.com/2015/12/05/rumus-k13-untuk-nilai-kompetensi-sikap-bagian-satu/).

Untuk melanjutkan tulisan tersebut, maka pada Bagian Dua ini saya akan menjelaskan penilaian dengan menggunakan Instrumen Penilaian Diri Sendiri. Penilaian sikap yang akan saya jelaskan adalah Sikap Jujur dan Sikap Disiplin. Berdasarkan Permendikbud No. 81 A Tahun 2013 instrumen yang digunakan untuk melakukan penilaian diri sendiri terhadap Sikap Jujur dan Sikap Disiplin adalah sebagai berikut:

Lembar Penilaian Diri-Sikap Jujur

Lembar Penilaian Diri-Sikap Disiplin

Untuk memberikan penilaian maka guru harus melakukan tahapan-tahapan sebagai berikut:

Tahap 1 

Guru harus menghitung skor yang diperoleh peserta didik berdasarkan hasil penilaian diri sendiri.

Contoh:

Untuk Sikap Jujur terdapat 5 (lima) pernyataan. Bila pernyataan positif maka TP diberi skor 1, KD diberi skor 2, SR diberi skor 3 dan SL diberi skor 4. Sebaliknya, jika pernyataan negatif maka TP diberi skor 4, KD diberi skor 3, SR diberi skor 2 dan SL diberi skor 1.

Misalnya Pernyataan No 1 (pernyataan negatif) diisi KD, Pernyataan No 2 (pernyataan negatif) diisi SL, Pernyataan No 3 (pernyataan positif) diisi SL, Pernyataan No 4 (pernyataan positif) diisi TP dan Pernyataan No 5 (pernyataan positif) diisi KD. Maka skor yang diperoleh adalah 3 + 1 + 4 + 1 + 2 = 11.

Untuk Sikap Disiplin terdapat 8 (delapan) sikap yang diamati. Bila mendapat Ya diberi skor 1 (satu) dan bila mendapat Tidak diberi skor 0 (nol). Misalnya Sikap No 1 mendapat Ya, Sikap No 2 mendapat Tidak, Sikap No 3 mendapat Tidak, Sikap No 4 mendapat Ya, Sikap No 5 mendapat Ya, Sikap No 6 mendapat Tidak, Sikap No 7 mendapat Ya, dan Sikap No 8 mendapat Tidak. Maka skor yang diperoleh adalah 1 + 0 + 0 + 1 + 1 + 0 + 1 + 0 = 4.

Tahap 2 

Guru harus merubah skor yang diperoleh tersebut ke dalam skala 4.

Untuk Sikap Jujur menggunakan rumus:

rumus observasi 1

Contoh:

Dari skor yang diperoleh seperti contoh pada tahap 1 di atas diperoleh :

diri 2

Untuk Sikap Disiplin menggunakan rumus:

rumus observasi 3

Contoh:

Dari skor yang diperoleh seperti contoh pada tahap 1 di atas diperoleh :

rumus observasi 4

Tahap 3 

Guru harus mengkonversi nilai skala 4 tersebut ke dalam Predikat Nilai Kompetensi Sikap sesuai Permendikbud No 81A Tahun 2013 yaitu :

                              Sangat Baik    : 3,33 < skor ≤ 4,00

                              Baik                   : 2,33 < skor ≤ 3,33

                              Cukup               : 1,33 < skor ≤ 2,33

                              Kurang              : 0,01< skor ≤ 1,33

Contoh:

Untuk Sikap Jujur, skala 4 yang diperoleh adalah 2,2 maka predikat nilainya adalah berada pada rentang 1,33 < skor ≤ 2,33 artinya mendapat predikat Cukup apabila lebih besar dari 1,33 dan lebih kecil atau sama dengan 2,33. Dengan demikian Skor 2,2 mendapat Predikat Cukup.

Untuk Sikap Disiplin, skala 4 yang diperoleh adalah 2 maka predikat nilainya adalah berada pada rentang 1,33 < skor ≤ 2,33 artinya mendapat predikat Cukup apabila lebih besar dari 1,33 dan lebih kecil atau sama dengan 2,33. Dengan demikian Skor 2 mendapat Predikat Cukup.

Cara manual di atas bisa digunakan tetapi membutuhkan waktu penyelesaian yang lebih lama. Maka saya memberikan jalan keluar untuk mengatasi hal tersebut dengan merubah sistimnya dari penilaian secara manual menjadi penilaian dengan sistim komputerisasi. Jadi guru tidak perlu lagi menggunakan kalkulator atau mencari satu persatu predikat skor yang sesuai yang cukup banyak menghabiskan waktu dan energi. Namun cukup sekali ketik angkanya saja maka semua hasil langsung diperoleh secara cepat dalam detik itu juga.

Namun ada persyaratan harus dipenuhi yaitu guru harus memahami penggunaan Microsot Excel 2007. Karena penilaian dengan sistim komputerisasi yang saya berikan ini adalah menggunakan rumus-rumus yang tersedia pada Microsoft Excel 2007. Berikut ini adalah langkah-langkah cara menggunakannya:

1. Buatlah tabel pada Microsoft Excel seperti contoh berikut.

tabel - penilaian diri 12. Kemudian isilah pada kolom NO, NAMA SISWA dan SKOR.

3. Untuk Sikap Jujur, pada cell E10 kolom SKALA 4 buatlah rumus berikut.

                                                =(D10*4)/20

4. Untuk Sikap Jujur, pada cell E11 kolom SKALA 4 buatlah rumus berikut.

                                                =(D11*4)/20

5. Lalu blok cell E10 dan cell E11 dengan menekan tombol SHIFT dan panah ke bawah () pada keyboard secara bersamaan, lalu tempatkan kursor mouse pada sisi kanan bawah hingga muncul tanda tambah (+) . Kemudian tanpa melepas tariklah hingga ke baris paling bawah pada tabel yang sudah dibuat maka secara otomatis rumus-rumus pada cell-cell dibawahnya telah ada.

6. Untuk Sikap Jujur, pada cell F10 kolom PREDIKAT buatlah rumus berikut.

=IF(E10>3.33,”Sangat Baik”,IF(E10>2.33,”Baik”,IF(E10>1.33,”Cukup”,”Kurang”)))

7. Untuk Sikap Jujur, pada cell F11 kolom PREDIKAT buatlah rumus berikut.

 =IF(E11>3.33,”Sangat Baik”,IF(E11>2.33,”Baik”,IF(E11>1.33,”Cukup”,”Kurang”)))

8. Lalu blok cell F10 dan cell F11 dengan menekan tombol SHIFT dan panah ke bawah () pada keyboard secara bersamaan, lalu tempatkan kursor mouse pada sisi kanan bawah hingga muncul tanda tambah (+) . Kemudian tanpa melepas tariklah hingga ke baris paling bawah pada tabel yang sudah dibuat maka secara otomatis rumus-rumus pada cell-cell dibawahnya telah ada.

Selanjutnya ulangilah langkah-langkah di atas untuk Sikap Disiplin yaitu:

9. Untuk Sikap Disiplin, pada cell I10 kolom SKALA 4 buatlah rumus berikut.

                                                =(H10*4)/8

10. Untuk Sikap Disiplin, pada cell I11 kolom SKALA 4 buatlah rumus berikut.

                                                =(H11*4)/8

11. Lalu blok cell I10 dan cell I11 dengan menekan tombol SHIFT dan panah ke bawah () pada keyboard secara bersamaan, lalu tempatkan kursor mouse pada sisi kanan bawah hingga muncul tanda tambah (+) . Kemudian tanpa melepas tariklah hingga ke baris paling bawah pada tabel yang sudah dibuat maka secara otomatis rumus-rumus pada cell-cell dibawahnya telah ada.

12. Untuk Sikap Disiplin, pada cell J10 kolom PREDIKAT buatlah rumus berikut.

=IF(I10>3.33,”Sangat Baik”,IF(I10>2.33,”Baik”,IF(I10>1.33,”Cukup”,”Kurang”)))

13. Untuk Sikap Disiplin, pada cell J11 kolom PREDIKAT buatlah rumus berikut.

 =IF(I11>3.33,”Sangat Baik”,IF(I11>2.33,”Baik”,IF(I11>1.33,”Cukup”,”Kurang”)))

14. Lalu blok cell J10 dan cell J11 dengan menekan tombol SHIFT dan panah ke bawah () pada keyboard secara bersamaan, lalu tempatkan kursor mouse pada sisi kanan bawah hingga muncul tanda tambah (+) . Kemudian tanpa melepas tariklah hingga ke baris paling bawah pada tabel yang sudah dibuat maka secara otomatis rumus-rumus pada cell-cell dibawahnya telah ada.

15. Langkah-langkah di atas akan menghasilkan tabel berikut.

tabel - penilaian diri 2

16. Maka secara otomatis akan menghasilkan predikat nilai sikap tanpa perlu melihat pedoman penilaian sikap K-13.

Mudah-mudahan rumus yang saya berikan ini bermanfaat bagi guru-guru di Indonesia. Selamat mencoba!

*Penulis adalah seorang guru yang berdomisili di Banda Aceh (bagi yang ingin berkomunikasi dengan penulis silakan kirim email ke: jumadalafrizal@gmail.com).

PENTING!!!

Bagi Bapak/Ibu/Sahabat yang ingin mengutip tulisan ini harap menyebutkan sumbernya sebagai bentuk penghargaan atas hak cipta intelektual yang telah diatur oleh undang-undang. Terima kasih atas pengertiannya.

NB:

Masih merasa kesulitan memahami tulisan ini? Silahkan langsung download artikelnya di sini.

Sudah berusaha tapi masih susah membuat tabel dan rumusnya? Silahkan langsung download aplikasinya di sini.

RUMUS K13 UNTUK NILAI KOMPETENSI SIKAP (Bagian Satu)

Oleh: Jumadal Afrizal, S.Si, M. Pd*

Sebelumnya saya telah menjelaskan bagaimana menghitung Nilai Kompetensi Pengetahuan dan Nilai Kompetensi Ketrampilan pada Kurikulum 2013 (K-13). (baca kembali: https://jumadalafrizal.wordpress.com/2015/11/15/rumus-k13-untuk-nilai-kompetensi-pengetahuan-2/ dan https://jumadalafrizal.wordpress.com/2015/12/05/rumus-k13-untuk-nilai-kompetensi-ketrampilan/).

Pada kesempatan ini saya akan menjelaskan bagaimana membuat penilaian pada Kurikulum 2013 (K-13) untuk Nilai Kompetensi Sikap. Berdasarkan Permendikbud No. 81 A Tahun 2013 penilaian sikap diperoleh dengan menggunakan instrumen:

  1. Penilaian observasi
  2. Penilaian diri sendiri
  3. Penilaian antar peserta didik
  4. Jurnal catatan guru

Di dalam tulisan ini saya hanya menjelaskan penilaian dengan menggunakan Instrumen Penilaian Observasi. Penilaian sikap yang akan saya jelaskan adalah Sikap Jujur dan Sikap Disiplin. Berdasarkan Permendikbud No. 81 A Tahun 2013 instrumen yang digunakan untuk melakukan observasi terhadap Sikap Jujur dan Sikap Disiplin adalah sebagai berikut:

pedoman observasi sikap jujur

pedoman observasi sikap disiplin

Untuk memberikan penilaian maka guru harus melakukan tahapan-tahapan sebagai berikut:

Tahap 1 

Guru harus menghitung skor yang diperoleh peserta didik berdasarkan hasil observasi.

Contoh:

Untuk Sikap Jujur terdapat 5 (lima) aspek pengamatan. Misalnya Pengamatan No 1 mendapat skor 2, Pengamatan No 2 mendapat skor 3, Pengamatan No 3 mendapat skor 4, Pengamatan No 4 mendapat skor 4 dan Pengamatan No 5 mendapat skor 2. Maka skor yang diperoleh adalah 2 + 3 + 4 + 4 + 2 = 15.

Untuk Sikap Disiplin terdapat 8 (delapan) sikap yang diamati. Bila mendapat Ya diberi skor 1 (satu) dan bila mendapat Tidak diberi skor 0 (nol). Misalnya Sikap No 1 mendapat Ya, Sikap No 2 mendapat Tidak, Sikap No 3 mendapat Tidak, Sikap No 4 mendapat Ya, Sikap No 5 mendapat Ya, Sikap No 6 mendapat Tidak, Sikap No 7 mendapat Ya, dan Sikap No 8 mendapat Tidak. Maka skor yang diperoleh adalah 1 + 0 + 0 + 1 + 1 + 0 + 1 + 0 = 4.

Tahap 2 

Guru harus merubah skor yang diperoleh tersebut ke dalam skala 4.

Untuk Sikap Jujur menggunakan rumus:

rumus observasi 1

Contoh:

Dari skor yang diperoleh seperti contoh pada tahap 1 di atas diperoleh :

rumus observasi 2

Untuk Sikap Disiplin menggunakan rumus:

rumus observasi 3

Contoh:

Dari skor yang diperoleh seperti contoh pada tahap 1 di atas diperoleh :

rumus observasi 4

Tahap 3 

Guru harus mengkonversi nilai skala 4 tersebut ke dalam Predikat Nilai Kompetensi Sikap sesuai Permendikbud No 81A Tahun 2013 yaitu :

                              Sangat Baik    : 3,33 < skor ≤ 4,00

                              Baik                     : 2,33 < skor ≤ 3,33

                              Cukup                : 1,33 < skor ≤ 2,33

                             Kurang               : 0,01< skor ≤ 1,33

Contoh:

Untuk Sikap Jujur, skala 4 yang diperoleh adalah 3 maka predikat nilainya adalah berada pada rentang 2,33 < skor ≤ 3,33 artinya mendapat predikat Baik apabila lebih besar dari 2,33 dan lebih kecil atau sama dengan 3,33. Dengan demikian Skor 3 mendapat Predikat Baik.

Untuk Sikap Disiplin, skala 4 yang diperoleh adalah 2 maka predikat nilainya adalah berada pada rentang 1,33 < skor ≤ 2,33 artinya mendapat predikat Cukup apabila lebih besar dari 1,33 dan lebih kecil atau sama dengan 2,33. Dengan demikian Skor 2 mendapat Predikat Cukup.

Cara manual di atas bisa digunakan tetapi membutuhkan waktu penyelesaian yang lebih lama. Maka saya memberikan jalan keluar untuk mengatasi hal tersebut dengan merubah sistimnya dari penilaian secara manual menjadi penilaian dengan sistim komputerisasi. Jadi guru tidak perlu lagi menggunakan kalkulator atau mencari satu persatu predikat skor yang sesuai yang cukup banyak menghabiskan waktu dan energi. Namun cukup sekali ketik angkanya saja maka semua hasil langsung diperoleh secara cepat dalam detik itu juga.

Namun ada persyaratan harus dipenuhi yaitu guru harus memahami penggunaan Microsot Excel 2007. Karena penilaian dengan sistim komputerisasi yang saya berikan ini adalah menggunakan rumus-rumus yang tersedia pada Microsoft Excel 2007. Berikut ini adalah langkah-langkah cara menggunakannya:

1. Buatlah tabel pada Microsoft Excel seperti contoh berikut.

tabel-observasi 1

2. Kemudian isilah pada kolom NO, NAMA SISWA dan SKOR.

3. Untuk Sikap Jujur, pada cell E10 kolom SKALA 4 buatlah rumus berikut.

                               =(D10*4)/20

4. Untuk Sikap Jujur, pada cell E11 kolom SKALA 4 buatlah rumus berikut.

                               =(D11*4)/20

5. Lalu blok cell E10 dan cell E11 dengan menekan tombol SHIFT dan panah ke bawah () pada keyboard secara bersamaan, lalu tempatkan kursor mouse pada sisi kanan bawah hingga muncul tanda tambah (+) . Kemudian tanpa melepas tariklah hingga ke baris paling bawah pada tabel yang sudah dibuat maka secara otomatis rumus-rumus pada cell-cell dibawahnya telah ada.

6. Untuk Sikap Jujur, pada cell F10 kolom PREDIKAT buatlah rumus berikut.

=IF(E10>3.33,”Sangat Baik”,IF(E10>2.33,”Baik”,IF(E10>1.33,”Cukup”,”Kurang”)))

7. Untuk Sikap Jujur, pada cell F11 kolom PREDIKAT buatlah rumus berikut.

 =IF(E11>3.33,”Sangat Baik”,IF(E11>2.33,”Baik”,IF(E11>1.33,”Cukup”,”Kurang”)))

8. Lalu blok cell F10 dan cell F11 dengan menekan tombol SHIFT dan panah ke bawah () pada keyboard secara bersamaan, lalu tempatkan kursor mouse pada sisi kanan bawah hingga muncul tanda tambah (+) . Kemudian tanpa melepas tariklah hingga ke baris paling bawah pada tabel yang sudah dibuat maka secara otomatis rumus-rumus pada cell-cell dibawahnya telah ada.

Selanjutnya ulangilah langkah-langkah di atas untuk Sikap Disiplin yaitu:

9. Untuk Sikap Disiplin, pada cell I10 kolom SKALA 4 buatlah rumus berikut.

                               =(H10*4)/8

10. Untuk Sikap Disiplin, pada cell I11 kolom SKALA 4 buatlah rumus berikut.

                               =(H11*4)/8

11. Lalu blok cell I10 dan cell I11 dengan menekan tombol SHIFT dan panah ke bawah () pada keyboard secara bersamaan, lalu tempatkan kursor mouse pada sisi kanan bawah hingga muncul tanda tambah (+) . Kemudian tanpa melepas tariklah hingga ke baris paling bawah pada tabel yang sudah dibuat maka secara otomatis rumus-rumus pada cell-cell dibawahnya telah ada.

12. Untuk Sikap Disiplin, pada cell J10 kolom PREDIKAT buatlah rumus berikut.

=IF(I10>3.33,”Sangat Baik”,IF(I10>2.33,”Baik”,IF(I10>1.33,”Cukup”,”Kurang”)))

13. Untuk Sikap Disiplin, pada cell J11 kolom PREDIKAT buatlah rumus berikut.

 =IF(I11>3.33,”Sangat Baik”,IF(I11>2.33,”Baik”,IF(I11>1.33,”Cukup”,”Kurang”)))

14. Lalu blok cell J10 dan cell J11 dengan menekan tombol SHIFT dan panah ke bawah () pada keyboard secara bersamaan, lalu tempatkan kursor mouse pada sisi kanan bawah hingga muncul tanda tambah (+) . Kemudian tanpa melepas tariklah hingga ke baris paling bawah pada tabel yang sudah dibuat maka secara otomatis rumus-rumus pada cell-cell dibawahnya telah ada.

15. Langkah-langkah di atas akan menghasilkan tabel berikut.

tabel - observasi 2

16. Maka secara otomatis akan menghasilkan predikat nilai sikap tanpa perlu melihat pedoman penilaian sikap K-13.

Mudah-mudahan rumus yang saya berikan ini bermanfaat bagi guru-guru di Indonesia. Selamat mencoba!

*Penulis adalah seorang guru yang berdomisili di Banda Aceh (bagi yang ingin berkomunikasi dengan penulis silakan kirim email ke: jumadalafrizal@gmail.com).

PENTING!!!

Bagi Bapak/Ibu/Sahabat yang ingin mengutip tulisan ini harap menyebutkan sumbernya sebagai bentuk penghargaan atas hak cipta intelektual yang telah diatur oleh undang-undang. Terima kasih atas pengertiannya.

 

NB:

Masih merasa kesulitan memahami tulisan ini? Silahkan langsung download artikelnya di sini.

Sudah berusaha tapi masih susah membuat tabel dan rumusnya? Silahkan langsung download aplikasinya di sini.

RUMUS K13 UNTUK NILAI KOMPETENSI KETRAMPILAN

Oleh: Jumadal Afrizal, S.Si, M.Pd*

Sebelumnya saya telah menjelaskan bagaimana menghitung Nilai Kompetensi Pengetahuan pada Kurikulum 2013 (K-13) (Baca kembali https://jumadalafrizal.wordpress.com/2015/11/15/rumus-k13-untuk-nilai-kompetensi-pengetahuan-2/).

Pada kesempatan ini saya akan menjelaskan bagaimana membuat penilaian pada Kurikulum 2013 (K-13) untuk Nilai Kompetensi Ketrampilan. Pada K-13 nilai tidak lagi berbentuk angka tetapi harus dikonversi ke huruf (predikat) yang sudah ditetapkan berdasarkan Permendikbud No. 81 A Tahun 2013.

Untuk melakukan penilaian pada kurikulum 2013 guru harus melewati tiga tahapan yaitu:

Tahap 1 ⇒

Guru harus memberikan nilai dengan skala 100 yang diperoleh peserta didik baik yang diperoleh dari evaluasi harian seperti latihan dan PR maupun pada evaluasi lainnya seperti UTS dan Ujian Semester. Misalnya 70, 85, 67 dan sebagainya. Tahap ini sudah biasa dilakukan oleh guru pada penilaian dengan KTSP 2006. Jadi pekerjaan ini tidaklah terlalu sulit.

Tahap 2 ⇒

Guru harus merubah nilai yang diperoleh tersebut ke dalam skala 4 yaitu dengan menggunakan rumus:

equation 1

Contoh:

equation 2

 

Tahap 3 

Guru harus mengkonversi nilai skala 4 tersebut ke dalam Predikat Nilai Kompetensi Ketrampilan sesuai Permendikbud No 81A Tahun 2013 yaitu :

                              A          : 3,66 < Nilai ≤ 4,00

                              A-        : 3,33 < Nilai ≤ 3,66

                              B+        : 3,00 < Nilai ≤ 3,33

                              B          : 2,66 < Nilai ≤ 3,00

                              B-         : 2,33 < Nilai ≤ 2,66

                              C+        : 2,00 < Nilai ≤ 2,33

                              C          : 1,66 < Nilai ≤ 2,00

                              C-         : 1,33 < Nilai ≤ 1,66

                              D+        : 1,00 < Nilai ≤ 1,33

                              D          : 0,00 < Nilai ≤ 1,00

 

Contoh: Nilai skala 4 yang diperoleh adalah 2,8 maka predikat nilainya adalah berada pada rentang 2,66 < Nilai ≤ 3,00 artinya mendapat Nilai B apabila lebih besar dari 2,66 dan lebih kecil atau sama dengan 3,00. Dengan demikian Nilai 2,8 mendapat Predikat B.

Cara manual di atas bisa digunakan tetapi membutuhkan waktu penyelesaian yang lebih lama. Maka saya memberikan jalan keluar untuk mengatasi hal tersebut dengan merubah sistimnya dari penilaian secara manual menjadi penilaian dengan sistim komputerisasi. Jadi guru tidak perlu lagi menggunakan kalkulator atau mencari satu persatu predikat nilai yang sesuai yang cukup banyak menghabiskan waktu dan energi. Namun cukup sekali ketik angkanya saja maka semua hasil langsung diperoleh secara cepat dalam detik itu juga.

Namun ada persyaratan harus dipenuhi yaitu guru harus memahami penggunaan Microsot Excel 2007. Karena penilaian dengan sistim komputerisasi yang saya berikan ini adalah menggunakan rumus-rumus yang tersedia pada Microsoft Excel 2007. Berikut ini adalah langkah-langkah cara menggunakannya:

1. Buatlah tabel pada Microsoft Excel seperti contoh berikut.

tabel - ketrampilan 1

2. Kemudian isilah pada kolom NO, NAMA SISWA dan NILAI.

3. Pada cell D8 kolom SKALA 4 buatlah rumus berikut.

                                             =(C8*4)/100

4. Pada cell D9 kolom SKALA 4 buatlah rumus berikut.

                                             =(C9*4)/100

5. Lalu blok cell D8 dan cell D9 dengan menekan tombol SHIFT dan panah ke bawah ( ) pada keyboard secara bersamaan, lalu tempatkan kursor mouse pada sisi kanan bawah hingga muncul tanda tambah ( ) . Kemudian tanpa melepas tariklah hingga ke baris paling bawah pada tabel yang sudah dibuat maka secara otomatis rumus-rumus pada cell-cell dibawahnya telah ada.

6. Selanjutnya pada cell E8 kolom PREDIKAT buatlah rumus berikut.

=IF(D8>3.66,”A”,IF(D8>3.33,”A-“,IF(D8>3,”B+”,IF(D8>2.66,”B”,IF(D8>2.33,”B-“,IF(D8>2,”C+”,IF(D8>1.66,”C”,IF(D8>1.33,”C-“,IF(D8>1,”D+”,”D”)))))))))

7. Pada cell E9 kolom PREDIKAT buatlah rumus berikut.

=IF(D8>3.66,”A”,IF(D8>3.33,”A-“,IF(D8>3,”B+”,IF(D8>2.66,”B”,IF(D8>2.33,”B-“,IF(D8>2,”C+”,IF(D8>1.66,”C”,IF(D8>1.33,”C-“,IF(D8>1,”D+”,”D”)))))))))

8. Lalu blok cell E8 dan cell E9 dengan menekan tombol SHIFT dan panah ke bawah ( ) pada keyboard secara bersamaan, lalu tempatkan kursor mouse pada sisi kanan bawah hingga muncul tanda tambah ( + ) . Kemudian tanpa melepas tariklah hingga ke baris paling bawah pada tabel yang sudah dibuat maka secara otomatis rumus-rumus pada cell-cell dibawahnya telah ada.

9. Langkah-langkah di atas akan menghasilkan tabel berikut.

tabel - ketrampilan 2

10. Maka secara otomatis akan menghasilkan predikat nilai tanpa perlu melihat pedoman penilaian K-13.

 

Mudah-mudahan rumus yang saya berikan ini bermanfaat bagi guru-guru di Indonesia. Selamat mencoba.

 

*Penulis adalah seorang guru yang berdomisili di Banda Aceh (bagi yang ingin berkomunikasi dengan penulis silakan kirim email ke: jumadalafrizal@gmail.com).

 

 

PENTING!!!

Bagi Bapak/Ibu/Sahabat yang ingin mengutip tulisan ini harap menyebutkan sumbernya sebagai bentuk penghargaan atas hak cipta intelektual yang telah diatur oleh undang-undang. Terima kasih atas pengertiannya.

 

NB:

Masih merasa kesulitan memahami tulisan ini? Silahkan langsung download artikelnya di sini.

Sudah berusaha tapi masih susah membuat tabel dan rumusnya? Silahkan langsung download aplikasinya di sini.

METODE ANALISIS PERKEMBANGAN BELAJAR SISWA

Oleh: Jumadal Afrizal, M. Pd

Metode yang dapat digunakan dalam membuat analisis perkembangan belajar siswa menurut Jumadal Afrizal (2015) jika soal yang diujikan kepada siswa sebanyak 4 (empat) butir dan berbentuk essay adalah sebagai berikut:

1. Buatlah pedoman penskoran untuk memeriksa hasil evaluasi:

Skor 25 = Jika jawaban yang diberikan benar seluruhnya

Skor 20 = Jika jawaban yang diberikan sebagian besar benar

Skor 15 = Jika jawaban yang diberikan setengahnya benar

Skor 10 = Jika jawaban yang diberikan sebagian kecil benar

Skor 0 = Jika jawaban yang diberikan tidak ada yang benar

2. Buatlah konversi skor tiap butir soal yang diperoleh masing-masing siswa berdasarkan kategori nilai yang telah ditetapkan pada poin 1 di atas.

Skor 25 = A

Skor 20 = B

Skor 15 = C

Skor 10 = D

Skor 0 = E

3. Lalu konversikan setiap kategori di atas ke dalam skala nilai:

A = 4

B = 3

C = 2

D = 1

E = 0

4. Lalu buatlah tabel dengan menggunakan Excel seperti format berikut ini.

ok-tabel 1

5. Lalu pada tabel tersebut isilah seperti contoh berikut ini.

mengenal bentuk aljabar

6. Pada Kolom Butir di atas isilah dengan hasil yang diperoleh siswa pada saat evaluasi berdasarkan kategori nilai seperti yang telah dijelaskan pada poin (2) di awal tulisan ini yaitu (A, B, C, D, E).

Contoh: Siswa AM memperoleh hasil = A, A, D, E.

7. Pada Kolom Jumlah Skor isilah berdasarkan jumlah skor yang tertulis pada butir dengan terlebih dahulu mengkonversikan ke dalam skala nilai seperti yang telah dijelaskan pada poin (3) di awal tulisan ini yaitu A = 4, B = 3, C = 2, D = 1 dan E = 0.

Contoh: Jumlah skor untuk siswa AM adalah 4 + 4 + 1 + 0 = 9.

8. Pada cell G12 Kolom Persentase Skor buatlah rumus:

                        =F12/16 (lalu tekan enter)

9. Arahkan kursor pada cell G12 lalu klik kanan pada mouse pilih format cells pilih number pilih percentage pilih decimal places 0, maka secara otomatis pada cell G12 akan muncul angka dalam persentase.

10. Pada cell G13 Kolom Persentase Skor buatlah rumus:

                        =F13/16 (lalu tekan enter)

11. Arahkan kursor pada cell G13 lalu klik kanan pada mouse pilih format cells pilih number pilih percentage pilih decimal places 0, maka secara otomatis pada cell G13 akan muncul angka dalam persentase.

12. Lalu blok cell G12 dan cell G13 dengan menekan tombol SHIFT dan panah ke bawah (∇) pada keyboard secara bersamaan, lalu tempatkan kursor mouse pada sisi kanan bawah hingga muncul tanda tambah (+). Kemudian tanpa melepas tariklah hingga ke baris paling bawah pada tabel yang sudah dibuat maka secara otomatis rumus-rumus pada cell-cell dibawahnya telah ada dan menghasilkan angka dalam persentase.

13. Lalu buatlah rentang nilai persentase yang diperoleh siswa dengan cara sebagai berikut:

a. Menentukan nilai persentase terbesar dan terkecil

Contoh:

Berdasarkan Kolom Persentase Skor pada tabel tersebut yang memuat persentase skor dari 28 orang siswa maka persentase maksimumnya adalah 100% dan persentase minimumnya  adalah 25%.

b. Menghitung range (jangkauan) yaitu maksimum dikurangi minimum.

Contoh:

Berdasarkan persentase maksimum dan minimum tersebut maka dapat dihitung Range yaitu       100% – 25% = 75%.

c. Menetapkan 4 kriteria nilai yaitu Kurang (K), Cukup (C), Baik (B) dan sangat baik (SB), sehingga diperoleh suatu nilai konstanta yang dijadikan standar untuk menghitung rentang nilai yaitu dengan membagi range dengan 4 kriteria tersebut.

Contoh:

75% : 4 = 18.75% (konstanta)

d. Mengurangkan nilai maksimum dengan konstanta secara terus menerus ke bawah sampai diperoleh nilai minimum.

Contoh:

100% – 18.75% = 81.25%

81.25% – 18.75% = 62.50%

62.5% – 18.75% = 43.75%

43.75% – 18.75% = 25%

e. Membuat rentang nilai persentase dan kriteria nilai berdasarkan hasil pengurangan di atas.

Contoh:

81.25% – 100% = Sangat Baik

62.5% – <81.25% = Baik

43.75% – <62.5% = Cukup

25% – < 43.75% = Kurang

14. Lalu pada Kolom Penguasaan Materi isilah berdasarkan rentang nilai persentase tersebut yang memiliki empat kriteria yaitu Sangat baik, Baik, Cukup dan Kurang. Untuk mengisi kolom tersebut maka kita hanya perlu membuat rumusnya sehingga secara otomatis keempat kriteria tersebut akan muncul dengan sendirinya.

15. Pada cell H12 Kolom Penguasaan Materi buatlah rumus berikut.

=IF(G12>=81.25%,”Sangat Baik”,IF(G12>=62.5%,”Baik”,IF(G12>=43.75%,”Cukup”,”Kurang”)))

16. Pada cell H13 Kolom Penguasaan Materi buatlah rumus berikut.

=IF(G13>=81.25%,”Sangat Baik”,IF(G13>=62.5%,”Baik”,IF(G13>=43.75%,”Cukup”,”Kurang”)))

17. Lalu blok cell H12 dan cell H13 dengan menekan tombol SHIFT dan panah ke bawah ( ) pada keyboard secara bersamaan, lalu tempatkan kursor mouse pada sisi kanan bawah hingga muncul tanda tambah ( ) . Kemudian tanpa melepas tariklah hingga ke baris paling bawah pada tabel yang sudah dibuat maka secara otomatis rumus-rumus pada cell-cell dibawahnya telah ada dan menghasilkan keempat kriteria tersebut berdasarkan rentang nilai yang sesuai.

18. Berikut adalah hasil lengkapnya:

mengenal bentuk aljabar-lengkap

19. Perkembangan belajar siswa dapat di lihat dari Kolom Penguasaan Materi pada tabel tersebut yaitu apabila pada materi sebelumnya mendapat CUKUP, lalu pada materi sesudahnya mendapat BAIK, artinya siswa tersebut mengalami peningkatan dalam penguasaan materi pembelajaran. Demikian pula sebaliknya, jika sebelumnya mendapat BAIK lalu pada materi berikutnya mendapat KURANG, artinya siswa tersebut mengalami penurunan dalam penguasaan materi pembelajaran. Dengan menggunakan metode ini guru dapat secara terus-menerus memantau perkembangan belajar siswa dari waktu ke waktu.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi guru-guru di Indonesia dalam upayanya untuk mengetahui sejauhmana perkembangan belajar siswa pada setiap materi pelajaran yang diajarkan. Selamat mencoba!

*Penulis adalah seorang guru yang berdomisili di Banda Aceh (email: jumadalafrizal@gmail.com).

 

PENTING!!!

Bagi Bapak/Ibu/Sahabat yang ingin mengutip tulisan ini harap menyebutkan sumbernya sebagai bentuk penghargaan atas hak cipta intelektual yang telah diatur oleh undang-undang. Terima kasih atas pengertiannya.

 

NB:

Masih merasa kesulitan memahami tulisan ini? Silahkan langsung download di sini.

Masih merasa kesulitan membuat Tabel dan Rumus Analisis Perkembangan Belajar Siswa? Silahkan langsung download di sini.

RUMUS K13 UNTUK NILAI KOMPETENSI PENGETAHUAN

Oleh: Jumadal Afrizal, S.Si, M.Pd*

Penilaian pada Kurikulum 2013 (K-13) cukup menyulitkan bagi guru karena ada beberapa perubahan yang mendasar dimana nilai tidak lagi berbentuk angka tetapi harus dikonversi ke huruf (predikat) yang sudah ditetapkan berdasarkan Permendikbud No. 81 A Tahun 2013.

Untuk melakukan penilaian pada kurikulum 2013 guru harus melewati tiga tahapan yaitu:

Tahap 1 ⇒ Guru harus memberikan nilai dengan skala 100 yang diperoleh peserta didik baik yang diperoleh dari evaluasi harian seperti latihan dan PR maupun pada evaluasi lainnya seperti UTS dan Ujian Semester. Misalnya 70, 85, 67 dan sebagainya. Tahap ini sudah biasa dilakukan oleh guru pada penilaian dengan KTSP 2006. Jadi pekerjaan ini tidaklah terlalu sulit.

Tahap 2 ⇒ Guru harus merubah nilai yang diperoleh tersebut ke dalam skala 4 yaitu dengan menggunakan rumus:

equation 1 Contoh:

equation 2

Tahap 3 ⇒ Guru harus mengkonversi nilai skala 4 tersebut ke dalam Predikat Nilai Kompetensi Pengetahuan sesuai Permendikbud No 81A Tahun 2013 yaitu :

A          : 3,66 < Nilai ≤ 4,00

A-        : 3,33 < Nilai ≤ 3,66

B+        : 3,00 < Nilai ≤ 3,33

B          : 2,66 < Nilai ≤ 3,00

B-         : 2,33 < Nilai ≤ 2,66

C+        : 2,00 < Nilai ≤ 2,33

C          : 1,66 < Nilai ≤ 2,00

C-         : 1,33 < Nilai ≤ 1,66

D+        : 1,00 < Nilai ≤ 1,33

D          : 0,00 < Nilai ≤ 1,00

Contoh: Nilai skala 4 yang diperoleh adalah 2,8 maka predikat nilainya adalah berada pada rentang 2,66 < Nilai ≤ 3,00 artinya mendapat Nilai B apabila lebih besar dari 2,66 dan lebih kecil atau sama dengan 3,00. Dengan demikian Nilai 2,8 mendapat Predikat B.

Kalau dilihat sepertinya mudah, padahal proses penilaian ketiga tahapan tersebut sangatlah panjang dan melelahkan. Karena guru harus memberikan penilaian untuk setiap kelas yang berbeda dimana pada tiap-tiap kelas memiliki jumlah murid yang berbeda pula. Misalkan saja tiap kelas memiliki jumlah murid 35 orang dan ada 9 kelas yang harus diberikan nilai maka total nilai yang harus diberikan adalah 315 orang siswa. Biasanya guru banyak yang kedodoran ketika masa-masa menjelang pembagian rapor dimana waktu yang sangat sempit untuk menyerahkan nilai kepada wali kelas atau pengajaran misalnya 1 minggu. Dimana dalam 1 minggu tersebut juga harus memberikan remedial bagi siswa-siswa yang tidak mencapai KKM. Hari-hari yang sangat melelahkan dan menyita banyak waktu dan energi.

Malahan harus membawa pulang pekerjaan tersebut ke rumah sehingga tidak ada lagi waktu untuk keluarga. Apalagi kalau ada guru yang memiliki anak kecil yang masih butuh perhatian dan kasih sayang tentu menjadi hari-hari yang sangat menyedihkan karena anak tidak lagi menjadi fokus perhatian. Terlebih lagi kalau ada guru yang memiliki bayi yang masih menyusui tentu akan lebih memprihatinkan lagi. Bahkan boleh jadi gara-gara pekerjaan memberikan nilai di bawa pulang ke rumah bisa-bisa suami pun tidak terurus lagi. Beginilah efek sosial yang ditimbulkan akibat berubahnya sistim penilaian ke Kurikulum 2013.

Untuk mengatasi efek sosial dan efek psikologis yang dialami guru maka harus ada solusi yang tepat supaya pekerjaan dalam memberikan nilai dapat lebih mudah dan ringan sehingga proses pemberian nilai menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan dan menggairahkan bukan sebaliknya menjadi suatu kegiatan yang menegangkan dan mencemaskan bahkan menyedihkan.

Maka saya memberikan jalan keluar untuk mengatasi hal tersebut dengan merubah sistimnya dari penilaian secara manual menjadi penilaian dengan sistim komputerisasi. Jadi guru tidak perlu lagi menggunakan kalkulator atau mencari satu persatu predikat nilai yang sesuai yang cukup banyak menghabiskan waktu dan energi. Namun cukup sekali ketik angkanya saja maka semua hasil langsung diperoleh secara cepat dalam detik itu juga.

Namun ada persyaratan harus dipenuhi yaitu guru harus memahami penggunaan Microsot Excel 2007. Karena penilaian dengan sistim komputerisasi yang saya berikan ini adalah menggunakan rumus-rumus yang tersedia pada Microsoft Excel 2007. Berikut ini adalah langkah-langkah cara menggunakannya:

1. Buatlah tabel pada Microsoft Excel seperti contoh berikut.

tabel 1 rev

2. Kemudian isilah pada kolom NO, NAMA SISWA dan NILAI.

3. Pada cell D8 kolom SKALA 4 buatlah rumus berikut.

 =(C8*4)/100

 4. Pada cell D9 kolom SKALA 4 buatlah rumus berikut.

=(C9*4)/100

  5. Lalu blok cell D8 dan cell D9 dengan menekan tombol SHIFT dan panah ke bawah (∇) pada keyboard secara bersamaan, lalu tempatkan kursor mouse pada sisi kanan bawah hingga muncul tanda tambah ( + ) . Kemudian tanpa melepas tariklah hingga ke baris paling bawah pada tabel yang sudah dibuat maka secara otomatis rumus-rumus pada cell-cell dibawahnya telah ada.

6. Selanjutnya pada cell E8 kolom PREDIKAT buatlah rumus berikut.

=IF(D8>3.66,”A”,IF(D8>3.33,”A-“,IF(D8>3,”B+”,IF(D8>2.66,”B”,IF(D8>2.33,”B-“,IF(D8>2,”C+”,IF(D8>1.66,”C”,IF(D8>1.33,”C-“,IF(D8>1,”D+”,”D”)))))))))

 7. Pada cell E9 kolom PREDIKAT buatlah rumus berikut.

 =IF(D9>3.66,”A”,IF(D9>3.33,”A-“,IF(D9>3,”B+”,IF(D9>2.66,”B”,IF(D9>2.33,”B-“,IF(D9>2,”C+”,IF(D9>1.66,”C”,IF(D9>1.33,”C-“,IF(D9>1,”D+”,”D”)))))))))

8. Lalu blok cell E8 dan cell E9 dengan menekan tombol SHIFT dan panah ke bawah (∇) pada keyboard secara bersamaan, lalu tempatkan kursor mouse pada sisi kanan bawah hingga muncul tanda tambah ( + ) . Kemudian tanpa melepas tariklah hingga ke baris paling bawah pada tabel yang sudah dibuat maka secara otomatis rumus-rumus pada cell-cell dibawahnya telah ada.

9. Langkah-langkah di atas akan menghasilkan tabel berikut.

10. Maka secara otomatis akan menghasilkan predikat nilai tanpa perlu melihat pedoman penilaian Kurikulum 2013.

Mudah-mudahan rumus yang saya berikan ini bermanfaat bagi guru-guru di Indonesia. Selamat mencoba.

 

*Penulis adalah seorang guru yang berdomisili di Banda Aceh

 

Penting!!!

Bagi Bapak/Ibu/Sahabat yang ingin mengutip tulisan ini harap menyebutkan sumbernya sebagai bentuk penghargaan atas hak cipta intelektual yang telah diatur oleh undang-undang. Terima kasih atas pengertiannya.

 

NB:

Masih merasa kesulitan memahami tulisan ini? Silahkan langsung download artikelnya di sini.

Sudah berusaha tapi masih susah membuat tabel dan rumusnya? Silahkan langsung download aplikasinya di sini.

ANALISIS HASIL PEMBELAJARAN

Oleh: Jumadal Afrizal, S.Si, M.Pd*

Di sekolah masih kita jumpai guru yang tidak mampu melakukan analisis hasil pembelajaran. Kemampuan ini tidaklah sulit untuk dipelajari karena buku tentang evaluasi pendidikan sangat mudah kita peroleh di toko buku. Sehingga secara otodidak pun kita mampu mempelajari dan menguasainya. Bahkan di internet banyak sekali informasi yang dapat kita peroleh.

Kesulitan ini pun pernah penulis alami pada saat awal-awal menjadi guru. Namun karena hal tersebut merupakan salah satu dari TUPOKSI sebagai guru maka penulis berusaha mempelajari dan menguasainya, lalu mempraktikkannya dalam PBM (Proses Belajar Mengajar).

Dalam buku evaluasi pendidikan yang ditulis oleh Suharsimi Arikunto (2013) yang berjudul “Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Edisi 2, Cetakan Ketiga, Jakarta: Bumi Aksara” terdapat dua jenis analisis yang dapat dilakukan yaitu: (1) analisis tingkat kesukaran butir soal dan (2) analisis daya pembeda butir soal. Metode analisis yang digunakan sangat tergantung kepada bentuk soal yang kita berikan pada siswa di saat melakukan evaluasi. Ada dua bentuk soal yaitu pilihan ganda (choice) dan uraian (essay). Kalau kita perhatikan metode analisis yang dijelaskan pada buku tersebut lebih mudah menganalisis soal berbentuk pilihan ganda. Karena data yang diolah berdasarkan banyaknya butir soal yang dijawab Benar (B) dan Salah (S) yang diperoleh setiap siswa. Selanjutnya dengan menggunakan rumus tertentu diperoleh indeks kesukaran butir soal dan indeks daya pembeda, selanjutnya ditentukan kriteria dari indeks tersebut. Untuk lebih jelas, berikut ini penulis berikan contohnya. Contoh yang penulis berikan ini adalah berdasarkan pengalaman dalam melaksanakan PBM di sekolah. Semoga bermanfaat!

Analisis Tingkat Kesukaran Butir Soal Pilihan Ganda:

Analisis Daya Pembeda Butir Soal Pilihan Ganda:

 

*Penulis adalah seorang guru yang berdomisili di Banda Aceh.

 

PENTING!!!

Bagi Bapak/Ibu/Sahabat yang ingin mengutip tulisan ini harap menyebutkan sumbernya sebagai bentuk penghargaan atas hak cipta intelektual yang telah diatur oleh undang-undang. Terima kasih atas pengertiannya.

“KARTU PINTAR MATEMATIKA”

Latar Belakang

Penciptaan “Kartu Pintar Matematika” berawal dari keinginan saya untuk menumbuhkan kemauan belajar siswa kelas 2 MTsS Ulumul Quran Kota Banda Aceh terhadap pelajaran Matematika pada Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2013/2014. Siswa selalu beralasan tidak sempat belajar Matematika di asrama karena waktu mereka habis untuk kepentingan belajar di dayah dari sore hingga malam hari. Sehingga saya sebagai guru jarang sekali memberikan PR atau tugas yang dibawa pulang ke asrama karena siswa selalu beralasan tidak sempat mengerjakannya. Pada awalnya saya bisa memahami alasan tersebut, sehingga saya lebih sering memberikan latihan di kelas saja. Saya menambahnya dengan memotivasi siswa agar mau mengulang-ulang pelajaran yang sudah diajarkan di asrama walau hanya sebentar karena belajar secara kontinu akan sangat baik untuk mengingat pelajaran yang sudah diajarkan.

Kenyataannya, belajar hanya pada waktu di kelas dengan sesekali memberikan latihan tidak banyak membantu meningkatkan hasil belajar siswa. Terbukti pada waktu tiba ulangan pertama kali untuk Materi Aljabar, dari jumlah siswa kelas 2 yang mengikuti ulangan sebanyak 82 orang yang tersebar pada 3 rombel terdapat 48 orang yang memperoleh nilai ulangan dibawah KKM (<70). Kalau dipersentasekan maka siswa yang memperoleh nilai ulangan di bawah KKM sebanyak 59% dari keseluruhan rombel tersebut. Tentu kenyataan ini sangat mengkhawatirkan saya sebagai guru yang mengampu pelajaran Matematika untuk siswa kelas 2. Apalagi Materi Aljabar adalah materi pelajaran yang penting karena akan berkaitan dengan materi-materi berikutnya.

Maka saya berpikir keras bagaimana caranya supaya saya bisa mengontrol mereka belajar di asrama, supaya mereka bisa punya kemauan untuk belajar sendiri di asrama dan supaya mereka tidak punya alasan lagi untuk berdalih tidak sempat belajar. Dari hasil perenungan yang mendalam selama berminggu-minggu berdasarkan pengalaman saya mengajar selama satu tahun di MTsS Ulumul Qur’an sejak Tahun Pelajaran 2012/2013 dan juga mempelajari dan mengamati berbagai karakter siswa di sekolah ini, akhirnya saya berhasil menemukan sebuah metode dengan membuat sebuah kartu yang dapat membantu saya mengontrol belajar siswa di asrama dan dapat menumbuhkan kemauan belajar siswa secara mandiri di asrama. Saya memberi nama kartu ini sebagai “Kartu Pintar Matematika”. Kenapa diberi nama “Kartu Pintar”? Karena Saya mengharapkan dengan penggunaan kartu ini dapat membantu murid-murid saya menjadi pintar terhadap pelajaran Matematika karena adanya dorongan untuk mau berlatih mengerjakan soal-soal Matematika secara mandiri di asrama secara kontinyu.

Design “Kartu Pintar Matematika”

Saya sendiri yang mendesign “Kartu Pintar” ini dengan design yang sangat sederhana menggunakan Program Microsoft Excel 2007. “Kartu Pintar” di design dalam bentuk tabel yang memuat tulisan “Kartu Pintar Matematika” yang ditulis dalam huruf kapital pada baris kepala judul dan saya menambahnya dengan tulisan “Semester I TP. 2013/2014-MTsS Ulumul Qur’an Banda Aceh” dalam huruf kapital juga. Lalu saya menarik garis hitam lurus (horizontal) untuk memisahkan dengan tulisan dibawahnya. Selanjutnya, dibawahnya tertera tulisan “Materi”, “Nama Siswa” dan “Kelas”. Dibawahnya terdapat tabel yang terdiri dari 4 kolom judul yaitu “No”, “Hari/Tgl”, “Soal yang dikerjakan” dan “Paraf Guru”. Kolom “No” terdiri dari angka 1 sampai 4. Kolom “Soal yang dikerjakan” masing-masing terdiri dari angka 1 sampai 3. Selanjutnya di bawah tabel terdapat “Catatan Penting” yang saya tulis dalam huruf kapital.

“Catatan Penting” tersebut berisi penjelasan singkat tentang penggunaan “Kartu Pintar Matematika” yang terdiri dari 6 (enam) penjelasan. Penjelasan 1 (satu), “Kartu ini diberikan kepada siswa yang nilai ulangan di bawah KKM”. Penjelasan 2 (dua), Kartu ini digunakan sebagai bukti siswa ada berlatih menyelesaikan soal-soal matematika secara mandiri di asrama”. Penjelasan 3 (tiga), Dalam 1 minggu siswa harus berlatih mengerjakan soal matematika sebanyak 3 soal”. Penjelasan 4 (empat), Soal dicari sendiri oleh siswa bisa dari buku paket matematika atau dari buku lainnya”. Penjelasan 5 (lima), Kartu ini harus diperlihatkan 1 minggu sekali kepada guru yang bersangkutan untuk diparaf”. Penjelasan 6 (enam), Setelah kartu ini dituntaskan maka siswa akan diberikan remedial untuk memperbaiki nilai”. Kartu ini harus dicetak dengan kertas karton berwarna merah (B5). Berikut ini adalah contoh design “Kartu Pintar Matematika” yang telah saya scan sehingga latar merah tidak begitu kelihatan.

Penggunaan “Kartu Pintar Matematika”

“Kartu Pintar” digunakan pada waktu selesai ulangan yang diberikan khusus untuk peserta didik yang memperoleh nilai ulangan di bawah KKM. “Kartu Pintar” dibagikan kepada peserta didik pada jam pelajaran Matematika oleh guru yang mengampu. Pada saat dibagikan guru memberitahukan kepada peserta didik kapan waktunya (hari dan tgl) penyerahan “Kartu Pintar” untuk dibubuhkan paraf. Penyerahan “Kartu Pintar” dari peserta didik untuk dibubuhkan paraf harus dilakukan secara serentak (bersama-sama). Guru harus melarang peserta didik yang mencoba-coba tidak mematuhi jadwal penyerahan “Kartu Pintar” dengan berbagai macam alasan misalnya tertinggal, tidak mengerjakan dan lain sebagainya. Guna mencegah kehilangan “Kartu Pintar” yang dilakukan oleh peserta didik, maka guru harus membuat peringatan yang keras dengan menerapkan denda mengganti dengan uang yang besarnya tergantung pada kebijakan guru masing-masing yang bertujuan untuk menakuti siswa agar tidak berbuat ceroboh dengan menghilangkan “Kartu Pintar”. Dengan menerapkan denda diharapkan peserta didik dapat lebih berhati-hati dalam menjaga dan menyimpan “Kartu Pintar”.

“Kartu Pintar” ini berlaku selama 4 minggu (sebulan) berarti guru membubuhkan paraf sebanyak 4 kali. Guru harus disiplin dalam membubuhkan paraf menurut jadwal penyerahan yang telah disepakati dengan peserta didik setiap minggunya. Jangan sampai membubuhkan paraf sekaligus karena adanya permintaan peserta didik. Hal ini akan mengurangi keseriusan peserta didik berlatih mengerjakan soal-soal Matematika setiap minggunya. Padahal yang diharapkan dari “Kartu Pintar Matematika” adalah adanya kemauan peserta didik untuk secara kontinyu belajar mandiri di asrama dengan hanya mengerjakan soal-soal Matematika sebanyak 3 soal saja. Jadi peserta didik tidak dituntut untuk mengerjakan soal sebanyak-banyaknya karena hal ini akan menjadi beban dengan banyaknya waktu mereka yang tersita untuk kegiatan di dayah dari sore hingga malam hari.

Jadi peserta didik harus benar-benar mendisiplinkan dirinya berlatih secara kontinyu di asrama dengan cukup mengerjakan soal Matematika sebanyak 3 soal saja setiap minggunya selama sebulan (4 minggu). Peserta didik tidak diwajibkan untuk mengumpulkan cara penyelesaian dari soal-soal yang telah dikerjakan tersebut tetapi cukup menuliskan saja soal-soal Matematika yang dikerjakannya tersebut pada “Kartu Pintar”. Sedangkan bagaimana menyelesaikan soal-soal tersebut cukup diketahui oleh peserta didik yang bersangkutan. Kalau guru mewajibkan untuk mengumpulkan berarti namanya PR (pekerjaan rumah) sedangkan yang diharapkan dari “Kartu Pintar” adalah tumbuhnya kemauan untuk berlatih soal-soal secara mandiri dan dilakukan secara kontinyu bukan untuk membebankan peserta didik dengan memberikan PR yang banyak sementara waktu mereka sudah tersita untuk dayah sehingga PR akan terabaikan juga (tidak sempat dikerjakan). Maka PR yang seharusnya dapat mendorong peserta didik berlatih kembali terhadap pelajaran yang telah diajarkan di kelas menjadi tidak efektif malah menjadi beban tersendiri seiring dengan kegiatan dayah yang sangat padat.

Dengan adanya “Kartu Pintar” diharapkan perasaan terbebani dalam belajar itu menjadi terkurangi karena yang dituntut dari “Kartu Pintar” hanya menuliskan soal-soal Matematika yang dikerjakan secara mandiri tapi tidak dituntut untuk mengumpulkan cara penyelesaiannya. Walaupun demikian peserta didik tetap diingatkan bahwa soal-soal yang telah dikerjakan itu akan ditanyakan kembali pada waktu diadakan “Remedial” sehingga peserta didik tidak boleh melupakan bagaimana cara penyelesaiannya. Dengan adanya peringatan ini maka diharapkan peserta didik benar-benar serius dalam mengerjakan soal-soal tersebut, karena akan ditanyakan lagi pada waktu “Remedial”. Jadi kesimpulannya, pada waktu “Remedial” soal-soal yang ditanyakan adalah soal-soal yang telah dikerjakan sendiri oleh peserta didik yang ditulis dalam “Kartu Pintar”. Sehingga peserta didik benar-benar serius dalam berlatih soal-soal tersebut.

Soal-soal yang kerjakan oleh peserta didik bukanlah berasal dari guru, tapi peserta didik sendiri yang mencarinya dalam Buku Paket Matematika yang menjadi buku pegangan atau bersumber dari buku-buku Matematika yang lainnya. Jadi dalam mencari soal-soal tidak dibatasi hanya satu buku Matematika, tapi dianjurkan untuk menemukannya di buku-buku yang lain, sehingga diharapkan peserta didik memiliki pemahaman yang luas terhadap beragam soal-soal Matematika yang bersumber dari buku yang berbeda. Soal-soal yang dicari oleh peserta didik untuk dikerjakan haruslah sesuai dengan materi-materi yang sudah diajarkan (berkaitan), tidak boleh menyimpang dari pembahasan di kelas, atau menyimpang dari pokok bahasan, misalnya materi yang diajarkan di kelas tentang “Aljabar” tapi peserta didik mengerjakan soal-soal tentang “Fungsi dan Relasi”. Jadi guru harus betul-betul mengontrol pada waktu memeriksanya saat akan membubuhkan paraf. Apabila ada peserta didik yang menyimpang dari yang diperintahkan maka guru harus mengingatkan dan jangan membubuhkan paraf, berarti peserta didik harus memperbaikinya atau mencari soal lain yang lebih cocok. Jadi guru harus betul-betul dituntut untuk lebih jeli dan teliti dalam memeriksa soal-soal yang dituliskan dalam “Kartu Pintar”. Jangan sampai substansi yang diharapkan dari “Kartu Pintar” tidak tercapai yaitu peserta didik berhasil menuntaskan materi pelajaran yang tidak mencapai KKM.

Penutup

Demikianlah penjelasan yang bisa saya berikan yang berkaitan dengan penemuan saya, yang saya beri nama dengan “Kartu Pintar Matematika”. Semoga penemuan ini dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan khususnya bagi saya sendiri sebagai pendidik dalam rangka mencerdaskan murid-murid saya di lingkungan MTsS Ulumul Qur’an Kota Banda Aceh yang berada dibawah naungan Kementerian Agama Kota Banda Aceh, dan umumnya bagi pendidik lainnya di luar lingkup tempat saya mengajar yang memiliki permasalahan yang sama dengan saya dalam menyikapi problem belajar yang dihadapi peserta didik dalam mata pelajaran Matematika, terutama sekolah/madrasah yang memadukan sistem pendidikan umum dan pesantren/dayah. Dengan menganut dua sistem pendidikan akan menyebabkan peserta didik terbebani dengan kegiatan belajar yang sangat banyak. Apalagi kegiatan di dayah/pesantren sangatlah padat, sehingga mempengaruhi kemauan belajar peserta didik terhadap pelajaran umum terutama Matematika yang sering menjadi momok karena dianggap pelajaran yang susah. Ditambah lagi adanya anggapan bagi anak pesantren bahwa pelajaran umum tidaklah penting selain pelajaran agama. Tentu pemikiran ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi pendidik dalam mentransfer ilmunya terutama Matematika. Maka dengan adanya “Kartu Pintar Matematika” diharapkan tantangan tersebut dapat teratasi dan akan menumbuhkan minat peserta didik untuk belajar matematika secara mandiri dan terus-menerus (kontinyu) di asrama walaupun dijejali dengan kegiatan pesantren/dayah yang sangat padat.

Kota Banda Aceh, 25 Oktober 2013

Hormat Saya,

Penemu Kartu Pintar Matematika,

dto

Jumadal Afrizal, S.Si

    

Mengembangkan Potensi Anak Didik Melalui Lomba Berhitung

Dalam Pasal 3 Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003 disebutkan bahwa: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Dari pasal tersebut jelas sekali bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik. Berkaitan dengan hal tersebut maka sudah sepatutnya sebagai pendidik (guru) harus berupaya agar setiap peserta didik dapat berkembang potensinya. Upaya tersebut dapat dilakukan di dalam kelas pada saat proses pembelajaran berlangsung maupun di luar kelas pada kegiatan-kegiatan tertentu yang dapat membangkitkan potensi anak didiknya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Atas dasar pemikiran tersebutlah menjadi kesadaran saya untuk berupaya mengikutkan anak didik saya dari MTsS Ulumul Quran untuk mengikuti Lomba Berhitung Fakultas Teknik 2013 yang berlangsung di Aula Lab School Universitas Syiah Kuala pada hari sabtu (11/5) pukul 14.00 WIB. Anak didik yang saya ikutkan dalam lomba ini adalah berjumlah 2 (dua) orang yang keduanya berasal dari kelas 1, masing-masing bernama Muhammad Hidayat dan M. Syauqi Ridha Syawali. Mereka mengakui belum pernah mengikuti lomba ini sebelumnya. Berarti ini adalah pengalaman pertama mereka. Tentu saja hal ini sangat baik bagi perkembangan mental mereka supaya tampil percaya diri di depan umum. Disamping atas dasar ingin mengangkat potensi mereka, keikutsertaan mereka dalam ajang lomba ini adalah sebagai hadiah atas keberhasilan belajar di dalam kelas yang mengacu pada nilai-nilai yang mereka peroleh baik latihan maupun ulangan. Sebab saya menerapkan “reward and punishment” dalam proses pembelajaran yang saya ampu di dalam kelas.

 Dari pengamatan saya pada saat mendampingi anak-anak mengikuti lomba, dalam lomba berhitung ini, pada babak penyisihan dibagi ke dalam beberapa putaran sesuai dengan jumlah peserta yang terdaftar. Pada lomba ini, setiap putaran jumlah peserta yang tampil adalah 50 orang yang harus menjawab 18 soal berhitung dalam waktu 5 menit. Demikian seterusnya untuk putaran berikutnya jumlah peserta 50 orang lagi sampai habis semua peserta yang terdaftar dalam lomba ini. Setiap peserta harus menjawab 18 soal dalam 5 menit. Tapi bagi yang selesai sebelum waktu yang ditetapkan boleh mengacungkan tangan bahwa sudah selesai mengerjakan soal dan dicatat waktunya. Peserta yang selesai sebelum waktunya diberikan poin khusus, apabila jawaban benar semua tentu saja. Peserta dengan peringkat terbaik dari masing-masing putaran akan diadu lagi dalam babak semifinal. Demikian seterusnya sampai diperoleh juara pada babak final.

Dari lomba berhitung ini, saya mengamati ada anak dari sekolah lain yang sangat cepat menyelesaikan soal hitungannya, tidak sampai 2 menit. Ada yang 3 menit sudah selesai. Ada yang 4 menit. Tapi ada juga yang sudah 5 menit tidak semua soal selesai dikerjakan. Jadi kecepatan dan kemampuan dalam berhitung sangat bervariasi diantara para peserta. Kalau saya menilai, kecepatan dan ketepatan sangat mempengaruhi hasil yang diperoleh karena lebih cepat selesai sebelum waktunya punya nilai plus di mata para juri. Tentu saja sekali lagi harus dibarengi dengan jawaban yang benar. Bukan hanya cepat tapi tidak tepat jawabannya. Diperlukan kedua-duanya yaitu kecepatan dan ketepatan dalam menjawab karena dibatasi oleh waktu yang hanya 5 menit untuk menjawab 18 soal berhitung yang bermacam model seperti pembagian, akar, pangkat dan lain sebagainya.

 Dari hasil yang diketahui hari itu juga, anak didik saya tidak berhasil masuk ke putaran semifinal dan belum berhasil membawa pulang prestasi buat sekolah. Namun menurut saya, mereka telah memperoleh kesempatan berharga untuk merasakan suasana kompetisi dengan para peserta dari sekolah lain tentu saja menjadi sebuah pembelajaran yang bermakna buat membentuk karakter dalam menjalani kehidupan mereka sebagai pelajar. Bahwa dalam sebuah persaingan harus ada yang menang dan kalah. Dan kekalahan harus bisa diterima dengan hati yang lapang dan menjadi bekal semangat untuk mengasah diri lebih baik lagi. Bukan justru menjadi pribadi yang patah semangat dan berputus asa.

 Seperti usaha tak kenal lelah dari seorang Thomas Alpha Edison yang menemukan listrik setelah melakukan percobaan 1000 kali. Kegagalan beribu-ribu kali untuk menemukan sebuah keberhasilan yang dicita-citakan. Usaha yang tak kenal lelah ini seharusnya menjadi inspirasi bagi peserta lomba ini untuk terus berusaha meskipun selalu menemui kegagalan. Kegagalan adalah sebuah kemenangan yang tertunda, demikian sebuah nasehat bijak yang sering kita dengar. Inspirasi ini juga sangat baik sekali dicontoh oleh anak didik dalam belajarnya di sekolah. Jangan pernah berputus asa apabila nilainya selalu anjlok. Teruslah berusaha karena di dalam usaha pasti ada keberhasilan.

Ditulis oleh: Jumadal Afrizal

Banda Aceh, 11 Mei 2013

FOTO-FOTO KEGIATAN KELAS TP. 2016/2017

Foto-foto dibawah ini adalah hasil dokumentasi pada saat melakukan kegiatan di kelas sebagai wali kelas IX-2 MTsS Ulumul Qur’an Kota Banda Aceh yaitu:
1. Kegiatan penyerahan piagam penghargaan kedisiplinan masuk kelas tepat waktu.
2. Kegiatan penyerahan piagam penghargaan bagi pengurus organisasi kelas.
3. Kegiatan penyerahan piagam penghargaan bagi siswa yang telah memberikan kontribusinya bagi setiap kegiatan yang dilaksanakan di kelas.
4. Kegiatan penyerahan piagam penghargaan bagi piket kelas terbaik.
5. Kegiatan penyerahan piagam penghargaan pada saat pengambilan rapor yang disaksikan oleh orang tua/wali santri.
6. Kegiatan penyerahan hadiah pulpen dan buku bagi siswa yang disiplin.
7. kegiatan perayaan Hari Guru 25 November 2017.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Lelang Jabatan Kepala Sekolah Ala Jokowi di “Sekolah Abu Nawas”

Jabatan kepala sekolah pada dasarnya adalah tugas tambahan yang diberikan kepada guru yang dianggap cakap dan mampu, disamping dilihat dari aspek kepangkatannya juga. Kalau dilingkungan PNS dikenal dengan nama “Baperjakat” yaitu badan pertimbangan jabatan dan pangkat. Badan ini yang bertugas mempertimbangkan pangkat dan jabatan seorang PNS termasuk guru yang diangkat menjadi Kepala Sekolah. Dan mungkin juga karena ada faktor X yang membuat seorang guru diangkat jadi kepala sekolah. Kalau menurut saya, faktor X itu adalah relasi, kedekatan dengan pejabat tertentu yang punya kewenangan untuk memutuskan sesuatu jabatan, dan mungkin juga lobi dari orang yang punya kepentingan. Sedangkan dari aspek kompetensi saya rasa tidak terlalu jadi ukuran. Kalau pun ada Ujian Cakep (calon kepala sekolah) hanya formalitas saja. Tetap faktor X yang lebih dominan. Malah terkadang lebih punya kompetensi guru biasa dibandingkan dengan kepala sekolahnya, mungkin kesempatan saja yang tidak berpihak kepadanya. Apalagi fit and proper test mana pernah kita dengar dilakukan bagi seorang calon kepala sekolah. Lebih sering karena suka atau tidak suka dari para pejabat di atasnya.

Sehingga dengan sistem pemilihan kepala sekolah yang tidak terlalu jelas ini, malah lebih cenderung karena faktor X, maka tidaklah mengherankan kinerja seorang kepala sekolah cenderung biasa-biasa saja dan santai-santai saja. Kinerjanya tidak ubahnya seperti seorang yang sedang menikmati liburan dan rekreasi saja, hanya tertawa-tertawa saja dan bercanda-bercanda saja kerjanya sambil menunggu masa liburannya berakhir. Begitulah perumpamaan kinerja seorang kepala sekolah, begitu masa tugasnya sebagai kepala sekolah berakhir sama artinya masa liburannya telah berakhir pula, dan digantikan dengan orang lain, syukur-syukur kalau masa tugasnya diperpanjang lagi, mungkin karena faktor X tadi.

Kalau model kepala sekolah seperti itu enak sekali ya, cuma duduk-duduk manis saja, tidak ada kesibukan, semua sudah ada yang urus, yang buat roster pembagian tugas sudah ada yaitu bagian pengajaran/kurikulum, kalau ada kegiatan penerimaan murid baru, kegiatan ujian sekolah, sudah ada panitia yang bekerja. Mengajar cuma 6 jam, sedangkan guru-guru biasa harus 24 jam, karena jabatan kepala sekolah disamakan dengan (ekuivalensi) 18 jam sehingga kalau dijumlahkan beban kerjanya 24 jam juga. Tapi kalau kita amati 18 jam tugas tambahan ini tidak tercapai juga bila dilihat dari sejauhmana perkembangan sekolah ke arah kemajuan karena 18 jam itu adalah beban kerja bagi seorang kepala sekolah untuk bekerja bagi perkembangan sekolahnya, kalau ternyata tidak ada perubahan sama sekali ke arah yang lebih baik berarti 18 jam tersebut tidak sepenuhnya digunakan untuk bekerja melainkan untuk hal-hal lain, mungkin lebih banyak digunakan untuk bersantai-santai saja menikmati jabatannya.

Baru nampak ada kesibukan kalau ada rapat-rapat di luar sekolah, itupun rapat yang sifatnya rutinitas dari tahun ke tahun tetap sama yaitu rapat penentuan awal semester, libur semester, tentang ujian sekolah, ujian nasional, dan lain sebagainya. Menghadiri undangan makan-makan (kenduri), mengikuti upacara peringatan hari-hari penting nasional dan daerah seperti Hardiknas (Hari pendidikan nasional) dan Hardikda (Hari pendidikan daerah), dan acara-acara seremonial lainnya. Malah ada kepala sekolah yang lebih banyak menghabiskan waktunya di luar sekolah dengan alasan mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut di atas, setelah pergi tidak kembali lagi, baru kembali ke sekolah pada hari berikutnya, atau ada juga kepala sekolah yang memanfaatkan waktunya yang banyak lowong tadi karena 18 jam tugas tambahan yang tidak jelas job descriptionnya untuk dimanfaatkan mengajar di kampus-kampus perguruan tinggi sebagai dosen tidak tetap.

Dengan kinerja yang biasa-biasa saja, saya rasa semua orang juga bisa duduk dijabatan kepala sekolah, semua sudah ada yang atur bagian masing-masing, tinggal dikontrol saja kerja bagian-bagian itu. Kalau ada kepala sekolah yang masih mau mengontrol sudah sangat lumayan, karena ada juga kepsek yang sama sekali tidak ada control management, semua dibiarkan berjalan apa adanya. Tidak ada usaha untuk memperbaiki, malahan bila ada guru yang bersemangat untuk merubah keadaan menjadi lebih baik dilemahkan semangatnya, karena mental kepsek memang tidak berharap banyak perubahan, biar seperti itu-itu saja. Kalau mental kepsek seperti itu apa yang bisa diharapkan? Kontrol ke kelas saja tidak pernah, mencari tahu apa ada masalah di kelas berkaitan dengan fasilitas-fasilitas belajar. Apa ada bangku, meja belajar yang rusak, patah kaki, goyang-goyang, papan tulis yang rusak, cok listrik yang tidak terpasang dengan baik dan kawat-kawatnya dibiarkan telanjang. Pokoknya semua fasilitas belajar yang sudah tidak layak lagi apakah sudah tercatat semua? Ada kepsek yang tidak peduli dengan hal ini. Anak-anak didik dibiarkan berlama-lama merasakan fasilitas belajar yang tidak layak. Kasihan sekolah dengan mental kepsek seperti ini, acuh tak acuh saja. Sebaliknya, bila berkaitan dengan kepentingannya sendiri, fasilitasnya sendiri, tunjangan, gajinya, sampai transportasinya untuk mengurus berkas-berkas yang berkaitan dengan administrasi sekolah harus diperhitungkan, tidak boleh kurang sedikitpun. Harus dibayarkan. Keadilan hanya untuk dirinya sendiri. Pemimpin apa seperti ini? Continue reading →

Thalassemia Membawa Duka Bagi Temanku

Oleh: Jumadal Afrizal

Aku sangat senang membaca informasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan. Semua informasi kesehatan yang tersedia di media cetak maupun online tak ketinggalan aku baca semuanya. Minatku terhadap dunia kesehatan memang sangat tinggi karena ada keinginan yang lama terpendam saat tamat SMA dulu untuk melanjutkan studi di kedokteran. Hanya saja tidak tercapai karena masalah psikologis. Yaitu aku dahulu sangat takut melihat darah. Sehingga ketika diceritakan proses perekruitan menjadi mahasiswa kedokteran tidak jauh-jauh dari suasana yang diciptakan untuk selalu berhadapan dengan darah. Termasuk berhadapan dengan mayat. Cerita-cerita yang tidak mengenakkan itu membuat aku mengurungkan niat masuk kedokteran. Namun ada alasan yang lebih dominan yang mempengaruhi niatku masuk kedokteran karena ada faktor lain yang lebih menjanjikan yaitu aku bisa masuk perguruan tinggi tanpa tes (dulu namanya USMU). Sehingga aku lebih memilih untuk menerima tawaran USMU tersebut. Dulu ketika zamanku sekolah siswa-siswa yang mendapat USMU sangatlah diperhitungkan. Jadi mendapat USMU itu sebuah prestasi yang bergengsi saat itu sehingga aku tidak menolak ketika ditawarkan “tiket gratis” masuk perguruan tinggi.

Sampai hari ini saat aku sudah bekerja aku masih sering mengikuti informasi-informsi yang berkaitan dengan kesehatan. Artikel-artikel kesehatan aku baca semuanya. Bagaimana cara hidup sehat. Apa manfaat buah-buahan dan lain sebagainya. Termasuk mengatasi berbagai keluhan penyakit sering aku searching di internet. Pokoknya kalau di tengah pergaulan aku memiliki wawasan pengetahuan tentang kesehatan yang lebih luas dibandingkan yang lain. Berbagai istilah yang ada kaitan dengan dunia medis aku ketahui. Bahkan tanggal-tanggal yang diperingati sebagai hari-hari yang berkaitan dengan kesehatan pun aku ketahui seperti hari tanpa rokok, hari jantung, hari diabetes, hari cuci tangan sedunia, hari tuberculosis, dan lain sebagainya.

Namun perkenalanku dengan penyakit thalassemia ada cerita tersendiri. Bermula dari pengalaman pribadi temanku yang aku dapat ceritanya ketika kami kongkow di warung kopi beberapa tahun yang silam. Diceritakan oleh teman-teman kumpul saat itu bahwa salah seorang temanku -teman kami juga- anak pertamanya terkena penyakit thalassemia yang menyebabkan anaknya harus selalu mendapat pasokan darah atau dicuci darahnya. Rupanya secara genetik temanku ini pembawa penyakit thalassemia. Sedangkan istrinya juga secara genetik pembawa penyakit thalassemia juga. Tapi kedua suami istri ini bukanlah penderita thalassemia. Hanya unsur-unsur gen yang mereka bawa bisa menyebabkan timbulnya penyakit thalassemia jika kedua gen tersebut bertemu. Sehingga anak yang dilahirkan akan terkena penyakit tersebut. Tentu saja aku sangat terkejut mendengar cerita tersebut karena dia adalah termasuk salah seorang teman dekatku. Aku sangat sedih mendengar cerita tersebut. Tidak terhitung lagi biaya pengobatan yang temanku keluarkan untuk menyembuhkan putri mereka yang malang tersebut. Bahkan sampai berobat ke luar negeri harus menjual harta benda bahkan meninggalkan pekerjaan demi menyelamatkan si buah hati tercinta.

Cerita itu sudah beberapa tahun lewat, tiba-tiba aku dapat kabar duka bahwa anak keduanya meninggal saat akan dilahirkan karena istrinya terlambat dibawa ke rumah sakit. Juga karena ada faktor thalassemia menurut anggapan dokter yang menangani istrinya. Sehingga kami beramai-ramai bertakziah ke rumah duka untuk ikut merasakan kesedihan temanku ini sekaligus memberikan ketabahan dan kesabaran bagi ahlul bait. Di rumahnya kami mendapat informasi langsung darinya bahwa dia hanya akan merawat dan membesarkan anak pertamanya dan tidak punya rencana untuk memiliki anak lagi. Karena sayang sama anak katanya. Anaknya pasti akan menderita lagi karena terkena penyakit thalassemia. Sungguh cerita yang sangat mengharukan. Namun demikian aku tetap memberi semangat padanya mudah-mudahan Allah SWT akan menggantikan anaknya dengan yang lebih baik. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah SWT menghendaki karena dunia dan seisinya adalah milik Allah SWT. Kita sebagai manusia hanyalah makhluk yang lemah dan hanya kepada Allah-lah tempat satu-satunya untuk mengadu dan meminta pertolongan.

Sedangkan anak yang telah meninggal tersebut akan menunggu di surga untuk menolong orang tuanya nanti. Amin Ya Allah….

*Tulisan ini dibuat untuk memperingati Hari Thalassemia Sedunia yang diperingati setiap Tanggal 8 Mei.

FOTO MILAD 28 April 1976 – 28 April 2017

Oleh: Jumadal Afrizal, S.Si, M.Pd

Anak-anak itu adalah sumber kebahagiaan. Bersama mereka keceriaan itu selalu datang. Tidak ada wajah kepalsuan yang mencuat di rona wajah mereka. Semuanya memancarkan aura ketulusan untuk sekedar memberikan rasa bahagia bagi guru yang mereka cintai dan sayangi. Sebuah nuansa yang menghadirkan kedamaian di hati ini. Bertolak belakang dengan sebuah dunia lain yang dipenuhi oleh orang-orang dewasa yang pikirannya telah terkontaminasi dengan kebusukan, kedengkian, manis berhadapan menusuk dari belakang, selalu menghadirkan wajah-wajah penuh kepalsuan.

Akupun ikut larut dalam keceriaan dan kebahagiaan bersama kalian. Aku ikuti semua yang kalian ingin aku lakukan. Foto bersama dengan berbagai gaya. Meski usiaku tak muda lagi tapi aku mencoba menyesuaikan diri dengan gaya kalian. Tak lain hanya untuk menyenangkan hati kalian. Karena aku bisa membaca raut-raut wajah yang terpancar dari muka kalian sangat ingin memberikan aku rasa bahagia di hari MILADKU ini.

Kalian penuhi papan tulis dengan kata-kata dan kalimat yang menggugahku… Aku sangat sangat terharu wahai anak-anakku… Aku tidak akan melupakan momen yang indah ini sepanjang hidupku… Foto kebersamaan kita aku pajang di blog ini agar kalian tahu bahwa aku ingin momen indah ini bisa abadi bersama blog ini…. Dan agar siapa saja di luar sana bisa melihat betapa aku dan kalian sangatlah dekat… Aku tidak hanya menjadi guru tapi juga aku berusaha menjadi orang tua bagi kalian yang mampu mendengarkan segala keluh kesah kalian…

Terima kasih anak-anakku sekalian, hidupku terasa lebih indah karena keceriaan dan ketulusan kalian. Rasa-rasanya kalau tidak ada kalian yang selalu menghiasi hari-hariku entah apa jadinya hidupku ini. Aku tegar menghadapi semua cobaan dalam hidupku karena selalu ada kalian untukku.

Terima kasih telah menghiasi hari-hariku selama ini. Semoga kalian meraih masa depan yang lebih gemilang dalam hidup kalian. Aku sebagai guru hanya bisa mendoakan. Amin Ya Allah…

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.